PERTANYAAN Via HTII.SCHOOL@yahoo.com

uwi_yuli <uwi_yuli@yahoo.com> wrote: Halo,

Boleh saya minta masukannya untuk anak saya Ezra (3 tahun 9 bulan). Udah 3 hari ini kalo ngomong tuh tergagap gagap ya. Nggak tau gimana awalnya. Misalnya mau bilang mau makan "esa ma ma ma mau makan"....gitu deh. Saya suruh dia ngulang ngomongnya sampe bener.
Tapi ya nanti terulang lagi gagapnya. Duh kenapa ya?

Terus nih , dia juga gak mau masuk rumah orang. Sebel deh. Sampe bingung. Kan ceritanya natalan kemaren mesti sowan ke rumah sodara-sodara, nah Ezra sama sekali nggak mau masuk ke rumah yang kita kunjungi. Disuruh masuk malah nangis kenceng. Ya udah dia di halaman
aja jadinya sama mbaknya.

Satu lagi....koq makin lengket banget nih sama ibunya. Ibunya mandi, mau BAB, mesti ikut, kalo nggak bisa jerit2 sambil mukulin pintu . Udah gitu kalo bobo, dia bisa terbangun buat mastiin ibunya tidur di sampingnya. Masalahnya saya sering begadang buat bikin kue, jadi yang ada dia bisa terbangun beberapa kali. Gimana ya ?

Please ya masukannya. Asli nih lagi bingung banget.

Terimakasih

YULI

Ibu, saya Mas Kirdi Putra menjawab sharing ibu ke saya, terima kasih:

Berarti ini kasus gagap dadakan ya? Banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang berubah model komunikasinya, khususnya untuk anak kecil yang masih dalam tahap belajar, polos. Gagap bisa disebabkan oleh banyak hal, beberapa diantaranya adalah akibat trauma atas suatu hal atau kebiasaan yang ditirukan (dari lingkungannya, teman, orang tua, TV, dll). Apa yang bisa kita lakukan? Tindakan yang dilakukan sudah tepat, membawa anak pada model komunikasi awalnya (tidak gagap, lancar), tetapi kenapa belum permanen? Karena saat ini, hal yang tertatam dalam pikiran si anak adalah ”gagap”, dan hal inilah yang sedang di eksplorasi oleh pikirannya sendiri (asik dan menyenangkan untuk mengeksplorasi sesuatu hal yang baru).
Berdasarkan fakta inilah, maka kita dapat menciptakan ”kegemaran” yang lama di pikirannya, lancar berbicara. Kenapa harus seperti itu? Kita bisa ”memaksa” anak untuk kembali ke cara bicaranya yang lama, tetapi untuk beberapa kasus, justru bisa menciptakan ketegangan dan perasaan tertekan pada anak (walaupun memang dapat pula berhasil). Metode untuk menciptakan ”kegemaran” bicara lancar ini seperti yang sudah dilakukan, tetapi dilengkapi dengan:
  1. Penyampaian dengan permainan
  2. Perbandingan yang menyenangkan
Contohnya?
Misalnya kita mengajaknya untuk bermain tebak kata.. Kita melakukan suatu aktivitas (seperti pantomim), dan minta anak kita menebak apa yang sedang kita lakukan. Ketika anak mampu menebak dengan tepat, misalnya aktivitas ”MAKAN”, kita tanyakan pertanyaan berikutnya (dengan suasana yang fun dan menyenangkan, sambil tertawa), ”MAKAN atau MA MA MA MA KAN? Mana yang bener hayooo?”. Hal ini bisa diulangi beberapa kali, untuk beberapa aktivitas lainnya (misal. Makan, mandi, naik sepeda, cuci piring, dll), sampai semua jawabannya menunjukkan pola yang benar (bicara yang lancar).
Itu merupakan pola dan metode yang bisa diterapkan untuk mengubah sebuah pola pemikiran seorang anak. Bagaimana hasilnya nanti? Tentu saja tiap anak adalah unik, luar biasa, sehingga yang bisa kita lakukan berikutnya adalah, improvisasi. Selamat berimprovisasi...
Terus nih , dia juga gak mau masuk rumah orang. Sebel deh. Sampe bingung. Kan ceritanya natalan kemaren mesti sowan ke rumah sodara-sodara, nah Ezra sama sekali nggak mau masuk ke rumah yang kita kunjungi. Disuruh masuk malah nangis kenceng. Ya udah dia di halaman aja jadinya sama mbaknya.
Wah, ada kasus ngambek terhadap lingkungan baru? Sebetulnya, bukankah seorang anak kecil seharusnya masih polos dan mudah untuk berimprovisasi? Benar, tetapi seorang anak juga membutuhkan ruang yang nyaman menurut perasaannya (sekali lagi, bukan menurut kita lho). Nah, bagaimana caranya supaya si kecil mau masuk ke tempat yang baru? Satu hal yang perlu diperhatikan, hindari untuk memaksa.
Mengapa? Pemaksaan justru mampu menimbulkan terjadinya trauma pada pikiran si kecil. Yang bisa kita lakukan dalam kondisi seperti ini adalah kembali menggunakan metode penyampaian dengan permainan dan perbandingan yang menyenangkan.
Sebenarnya, ada banyak hal penyebab mengapa seorang anak tidak nyaman dengan lingkungan barunya. Misalnya, karena ia pernah mengalami beberapa hal yang tidak menyenangkan yang terkait (sama) dengan keaadaan yang sedang dialaminya saat itu (trauma). Contoh lain adalah karena si kecil pernah merasa sakit di dirinya ketika berada di luar rumah, dan menyamakan kondisi tersebut untuk tiap kali ia berada di luar rumah (persepsi), ini juga bisa menimbulkan hal-hal seperti yang terjadi diatas.
Banyak alasan mengapa seorang anak tidak mudah untuk beradaptasi dengan sebuah lingkungan baru. Sekali lagi hindari untuk memaksanya, jauh lebih bijak apabila kita mencoba untuk mengerti perasaannya, serta memberikannya sebuah semangat untuk mengatasi rasa takut, sakit, dan apapun yang membuatnya tidak nyaman tersebut.
Apa yang bisa kita lakukan?
Misalnya, kita bisa mengajak si kecil untuk bermain-main dahulu di luar rumah tersebut, kemudian setelah ia merasa lebih nyaman, tersenyum dan tertawa lepas, maka itu saatnya kita mulai mengajaknya bermain semakin mendekati ke dalam rumah.. berikan waktu yang cukup, tidak terburu-buru. Keterburu-buruan hanya akan menyebabkan si kecil semakin terpuruk dalam rasa tidak nyamannya. Berikan sedikit waktu dan kesabaran, dan hasilnya bukan hanya saat itu saja dapat kita rasakan, tetapi seringkali si kecil mampu ”menerjemahkan” rasa nyaman yang perlahan-lahan diperolehnya tersebut, di tempat lain.
Mempermudah kita sendiri sebagai orang tua bukan? Nah, selamat menjalankan tugas sebagai orang tua, menjalankan tugas mulia untuk membawa si kecil pada gerbang kehidupan yang lebih luas...
Satu lagi....koq makin lengket banget nih sama ibunya. Ibunya mandi, mau BAB, mesti ikut, kalo nggak bisa jerit2 sambil mukulin pintu . Udah gitu kalo bobo, dia bisa terbangun buat mastiin ibunya tidur di sampingnya. Masalahnya saya sering begadang buat bikin kue, jadi
yang ada dia bisa terbangun beberapa kali. Gimana ya?
Ketika seorang anak terlalu lengket dengan salah satu orang tuanya, bukankah itu hal yang bagus? Nah, kalau terlalu lengket? Ini yang masalah memang... pertanyaannya, mengapa itu bisa terjadi?
Banyak hal yang bisa menyebabkan seorang anak tiba-tiba seperti amplop dan perangko, menempel erat. Salah satu penyebab yang sering terjadi adalah semakin butuhnya waktu dan perhatian dari orang tuanya. Dengan makin berkembangnya usia anak, sebetulnya, secara mental, ia membutuhkan limpahan kasih sayang yang makin tidak sedikit. Hal ini akan terus terjadi sampai kalanya ia mampu untuk mandiri (bukan tergantung usia fisik, tetapi lebih pada kedewasaan usia mental si anak).
Nah, kalau sudah begini, yang perlu diperhatikan, bukan hanya tujuan membuat dia mampu kembali mandiri, tetapi cara untuk mengingatkan dan mengajarinya. Sekali lagi, hindari pukulan secara fisik maupun mental (teriakan, bentakan, dll). Kenapa? Coba bayangkan diri kita, bukan dengan pemahaman kita saat ini, tetapi saat kita juga seusia anak kita. Bayangkan betapa terkejut dan shock nya ketika kita melakukan sesuatu yang menurut kita hanya itulah cara komunikasi yang kita kenal (melalui menjerit-jerit contohnya), tetapi tiba-tiba kita menerima ”hukuman”, baik secara fisik (pukulan, dll) maupun mental (teriakan, bentakan, dll). Tentu akan terjadi kebingungan dan seringkali juga muncul perasaan bersalah. Bersalah? Iya, karena merasa telah melakukan sesuatu yang salah (walaupun ia juga tidak tau dimana salahnya).
Padahal?
Ya, padahal yang dilakukannya sederhana, mencari perhatian orang tuanya, tempat dirinya mencurahkan dan membutuhkan curahan kasih sayang. Luar biasa bukan, bagaimana cara berpikir kita seringkali membuat kita melontarkan sesuatu yg menyakitkan, padahal yang dibutuhkan anak hanya seberkas perhatian dan kasih sayang.
Jadi caranya gimana?
Sekali lagi, mainkan permainan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ajak si kecil untuk bermain-main dengan tokoh kesayangannya (tokoh superhero, boneka, dll), seolah-olah mereka adalah tokoh kesayangannya itu. Kemudian berikan nilai-nilai yang kita ingin tanamkan, misalnya ”mama/papa sayang sama Barney (dinosaurus lucu ungu totol-totol), kan Barney baik dan berani, seperti budi, jadi Barney udh waktunya bobok, jadi Barney sekarang bobok dan minta ditinggal. Barney mau nunjukin kalo Barney berani bobok sendiri.”
Lakukan berbagai permainan yang melibatkan tokoh kesayangannya itu. Karena dengan memasukkan dan melibatkannya bersama-sama, tercipta hubungan emosional dengan tokoh kesayangannya tersebut, sehingga memudahkan kita, ketika kita memberikan nilai-nilai yang kita ingin tanamkan, maka nilai-nilai tersebut akan secara mudah diambil oleh si anak (walaupun kita menanamkannya pada tokoh/boneka kesayangannya).
Sekali lagi, tetap dibutuhkan kesabaran sebagai orang tua, dan kesediaan untuk menginvestasikan waktu kita bagi anak-anak kita. Investasi? Tentu saja, bukankah anak kita merupakan investasi masa depan kita? Dan bukankah menarik, melihat cara mereka tumbuh dan belajar dari hari ke hari, yang seringkali berbeda dengan cara kita berkembang, belajar, dan bertingkah laku dulu?
Selamat merenda karir cinta, cinta pada anak, untuk masa depan mereka...
NB:
Terapi dan Workshop Hubungi: Emma 08561076322


No comments: