Anakku Tidak Bisa Dilarang


(Kenapa si kecil terbiasa melawan orang tua ya...)

Aduuh, kenapa ya setiap kata-kata saya, setiap perintah saya, setiap ajakan saya, pasti dilawan atau dibantah...”, termasuk anggota perkumpulan orang tua yang pernah mengucapkan kata-kata yang semodel atau bahkan sama persis seperti itu? Mungkin anda tidak perlu terlalu khawatir, itu cuma sebuah pertanda, pertanda bahwa anda siap bergabung di dunia orang tua (Parent’s World). Saran saya, hadapi dengan tersenyum dahulu.

Sebetulnya, ada pola kenapa seorang anak (terlihat) tidak bisa dilarang ketika ia menginginkan sesuatu. Pola yang sebenarnya juga bagian dari program atau ciptaan kita, yang menjadi lingkungan pembentuk anak kita tersebut. Kok bisa seperti itu ya? Sekali lagi, bisa, karena banyak faktor (faktor sifat, yang mempengaruhi lingkungan, faktor kebiasaan dari kecil, faktor toleransi di keluarga, faktor informasi yang masuk ke pikirannya, dll). Semua faktor-faktor ini dibentuk dan terbentuk di dalam pikiran bawah sadar anak tersebut. Pikiran bawah sadar? Iya, sebuah mekanisme yang seperti kertas putih ketika seorang anak baru saja dilahirkan, dan sedikit-demi sedikit tergambar menjadi peta, sejalan dengan semakin dewasanya anak tersebut. Setiap hal yang sudah diketahui anak itu akan berjalan sesuai dengan arah garis jalanan yang tergambar di peta itu. Contohnya? Bukankah kalau kita pergi dari rumah ke kekantor kita (cenderung) menggunakan jalan yang itu-itu saja bukan? Itu tandanya, rute kita sudah masuk ke pikiran bawah sadar kita (sudah menjadi refleks).

Jadi, kalau sudah pikiran bawah sadar anak saya tertulis ”tidak bisa dilarang” gimana dong? Pertama, yakinlah bahwa tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, jadi, bukan TIDAK bisa dilarang, namun kita BELUM menemukan CARANYA. Ada beberapa faktor yang mungkin harus diubah, yaitu:

  1. Kata-kata yang kita gunakan untuk melarang

Gunakan kata-kata yang bersifat ajakan positif ketika kita ”melarang” anak kita, serta masih diberikan pilihan (yang kita tentukan, tetapi intinya dia masih punya pilihan).

Contoh:

Daripada”Jangan bermain terus, kapan kamu belajarnya”

Gunakan ”Ayo kita belajar, kita bisa bermain lagi kan setelah belajar”

Daripada ”Jangan nakal begitu, ibu marah kalau kamu begitu”

Gunakan ”Kamu kan anak baik, kamu bisa kan begini?”

  1. Cara yang kita gunakan untuk melarang anak kita

Siapapun tidak suka lho di tekan dan diHARUSkan (coba, anda suka kah di tekan dan diHARUSkan? Tidak diberi pilihan sama sekali? Gunakan intonasi suara yang tidak mengintimidasi (menurut anak kita, bukan menurut kita), gunaka bahasa tubuh yang tegas namun bersahabat. Caranya? Komunikasikan dulu, ajak dia diskusi dalam suasana yang (kita dan dia tahu) bersahabat. Ajarkan anak untuk belajar diskusi dan negosiasi semenjak dini, tetapi tetap melihat orang tua sebagai figur pemimpin. Tanyakan pendapat dia ”gimana sih caranya ayah/ibu untuk ajak kamu lakukan ini/itu?”

Mungkin tips sederhana ini bisa diterapkan, walaupun memang masalah diseputar anak kita cukup kompleks, karena juga terkait dengan tipe dan karakter anak, cara berpikir anak, dan masih banyak lainnya. Untuk saat ini, selamat bertualang di dunia orang tua...

Anakku Mogok Sekolah

Tulisan Kirdi Putra

Anak saya tidak mau sekolah. Kalau saya bertanya apa yang terjadi, jawabannya selalu saja ”gak mau aja...”. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan, karena pendidikan kan penting bagi masa depannya.

Apakah penyebab ia mogok sekolah?


Menghadapi anak mogok sekolah? Memang bukan sebuah perkara yang menyenangkan, tetapi sarat dengan banyak pelajaran baru.

Penyebab seorang anak mogok sekolah? Banyak hal yang dapat menyebabkan seorang anak mogok sekolah, dari suasana belajar yang menurut dia tidak menyenangkan, guru yang galak dan otoriter, teman-teman yang banyak memberikan tekanan, persaingan dalam kelas, dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa menyebabkan seorang anak melakukan ”aksi” mogok sekolah. Biasanya hal-hal tersebut dapat menyebabkan trauma di dalam pikiran seorang anak.

Terkadang mencoba menggali penyebab kenapa seorang anak tidak mau bersekolah dapat menjadi sebuah kegiatan yang ”sangat” melelahkan. Apalagi bila anak kita termasuk salah seorang anak yang kurang ekspresif (yang ekspresif aja sudah cukup menantang, apalagi anak kita termasuk yang kurang ekspresif...).

Salah satu penyebab lain dari ketidakmauan anak kita untuk bersekolah adalah cara atau pelajaran yang menurutnya tidak nyaman. Ini menuntut kedewasaan kita sebagai orang tua sekaligus pendidik. Namanya juga anak kecil, ketika ia merasa tidak nyaman, maka reaksi yang ditampakkannya biasanya spontan, yang terkadang membuat kita jadi bingung.

”cobalah berpikir layaknya anak seusia anak kita,

maka kita mampu berkomunikasi dengan anak kita dengan lebih baik...”

Nah, memaksa seorang anak untuk menceritakan mengapa ia tidak mau sekolah kira-kira sama menantangnya dengan membuatnya masuk sekolah lagi. Jadi, bila anak kita belum mau cerita mengapa ia menolak untuk masuk sekolah, biarkan dahulu keadaan ini. Sambil kita mencari cara untuk membuat ia bercerita, atau bahkan lebih advance lagi, mencari hal yang membuat dia mau kembali ke sekolah. Bukankah komunikasi dengan orang lain bisa verbal dan non verbal?

Maksudnya gimana?

Begini, terkadang seorang anak mungkin tidak nyaman atau terbiasa untuk bercerita langsung dengan orang tuanya (mungkin lebih nyaman dengan teman-teman sebayanya). Mengapa? Wah, lebih panjang lagi tuh (mungkin karena teman-teman tidak menggurui, tidak menghakimi, atau telinga teman-temannya lebih ”banyak” dan ”lebar” dibandingkan kita?

Kemampuan mendengar kita terkadang kan perlu dipertanyakan begitu yang kita hadapi adalah anak kita, bukan begitu?).

Nah, jika anak kita belum mau bercerita pada kita secara langsung, solusinya? Saatnya kita BE CREATIVE... komunikasi (sekali lagi) bukan Cuma kata-kata (verbal), tapi bisa juga non verbal (bisa pakai SMS, pakai tulisan, pakai file di komputer, pakai rekaman, email, dll), yang bisa dimengerti oleh anak kita. Mungkin dengan cara yang begitu, sesuatu yang baru, anak kita bisa lebih terbuka, siapa tahu kan? Sudah dicoba?

Bagaimana caranya membuatnya mau bersekolah kembali?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mungkin ada baiknya kita mulai berpikir, bahwa orang-tua adalah pemimpin, guru, dan teman bagi anak kita. Mungkin ini salah satu saat yang tepat bagi kita untuk sementara memposisikan diri kita sebagai teman. Saat ini, anak kita membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dia, memahami dia, dan merangkul dia, bukan seseorang yang dengan otoritas penuh (sebagai bos, bahkan bukan sebagai seorang pemimpin) memberikan perintah, memberikan sanksi, memberikan bujukan, bukan...

Cara paling sederhana membuat anak kita mau bersekolah kembali adalah memahami apa dan mengapa dia berpikir seperti itu. Caranya? Dengan menjadi temannya, berkomunikasi dengannya, dari hati, bukan hanya pemikiran bahwa kalau dia tidak sekolah, maka masa depannya PASTI hancur. Bukan.

Kok begitu?

Kalau kita sudah punya kerangka berpikir masa depan yang HANYA tergantung pada apa yang KITA pikir benar (dalam hal ini, sekolah = sukses, tidak sekolah = gagal, hancur, gak jelas), maka kita ”tidak” akan benar-benar berkomunikasi dari hati kita pada anak kita.

Mengapa?

Paling gampang contohnya, memberikan solusi dan nasehat buat orang lain, apalagi tidak punya hubungan emosi dengan kita, lebih mudah daripada orang yang dekat dan punya hubungan emosional dengan kita (berlaku juga buat saya lho...). Karena dengan orang lain, tidak ada paksaan atau tekanan dari diri kita sendiri untuk melihatnya berhasil, bukan masalah tidak ingin melihat orang lain sukses, berhasil, atau bahagia, bukan, tetapi lebih kepada tidak adanya beban mental. Coba yang kita hadapi keluarga kita sendiri (dalam hal ini, anak kita sendiri), waduh, ada berjuta-juta tekanan di dalam diri kita, yang (sangat) menginginkan untuk anak kita HARUS berhasil. Jadi, yang terasa bagi kita adalah adanya tekanan dari luar (anak kita) dan dari dalam (diri kita).

”seorang teman memberikan telinganya untuk mendengar,

seorang teman memberikan bahunya untuk menangis,

seorang teman memberikan tangannya untuk bersandar,

seorang teman memberikan semuanya tanpa prasangka,

seorang teman menerima kita apa adanya...”

Nah, untuk memahami anak kita, coba lihat dan anggap dia sebagai seorang teman. Apa sih yang dibutuhkan seorang teman ketika sedang susah? Sedang ngambek? Sedang tidak mau melakukan sesuatu? Coba kita lihat dari sudut pandang itu.

Bisa langsung disuruh, kan kita orang tuanya?

Bisa? Bisa, tapi mungkin tidak akan bertahan lama, dan bahkan akan menciptakan resistansi dari si anak lebih besar lagi. Seberapa lama kita mau ”kuat-kuatan” atau ”keras-kerasan” dengan anak kita sendiri? Pilihannya adalah, kita dan anak kita sama-sama tertekan, sakit hati, dan justru akan memperjauh jarak hati kita dengan buah hati kita itu. Bukan ini yang kita inginkan kan?

Begitu kita sudah menjadi temannya, maka lebih mudah buat kita untuk mengerti dan saling mempengaruhi.

Bukan sesuatu yang tidak layak dicoba kan?

Anak


Anak

(ditulis oleh Khahlil Gibran dari “Cinta, Keindahan, Kesunyian”)


Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dekapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata:

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. +62 21 3283 9866

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change

Jagung yang Baik


(disadur dari “Jagung yang Baik” oleh James Bender)

Seorang wartawan mewawancari seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

"Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?" tanya sang wartawan.

"Tak tahukah anda?", jawab petani itu, "Angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula".

Hikmah

Hidup kita memiliki filosofi yang sama. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang telah kita sentuh.

Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. +62 21 3283 9866

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change


Perjuangan

(disadur dari ”Perjuangan” oleh Unknown)

Suatu ketika, ada seorang pria yang menemukan sebuah kepompong. Ia lalu membawanya pulang untuk melihatnya menetas menjadi kupu-kupu. Pada suatu senja, terlihat ada celah kecil muncul di kelopak kepompong itu. Dan untuk beberapa saat, terlihat pula kupu-kupu kecil yang ada di dalamnya, sedang berjuang untuk keluar. Namun, mahluk kecil itu terlihat tak kuasa. Ia tidak bisa memaksakan badannya keluar dari lubang yang kecil itu.

Pria itu merasa kasihan, dan bermaksud untuk menolong kupu-kupu kecil itu. Ia lalu mengambil sebuah gunting dan menggunting sebagian kepompong yang tersisa. Akhirnya, kupu-kupu itupun dapat keluar dengan mudah. Badannya terlihat besar dan bengkak, sayapnya kecil dan kusut.

Pria itu terus memperhatikan gerakan ngengat kecil tadi. Ia berharap, dalam beberapa saat lagi, sayap ngengat itu akan berkembang dalam keindahan alaminya. Ia berharap, akan melihat kelopak sayap kusut itu menjelma menjadi sayap kupu-kupu yang indah. Ia terus menanti saat-saat kupu-kupu kecil itu akan mengepakkan sayapnya, namun sayang, itu semua tidak terjadi. Ngengat kecil itu cuma bisa mengeliat, dan mengeliat. Sayapnya lemah, badannya ringkih.

Renungan

Yang terjadi sesungguhnya, kupu-kupu itu tak akan pernah mampu hidup sebagai mahluk yang terbang secara bebas sebelum ia berjuang sendiri. Setiap kupu-kupu harus melata dan berjuang keluar dari kepompong, dengan daya dan usahanya sendiri.

Sesungguhnya, saat kupu-kupu itu mengeliat dan bergerak membebasan dirinya, di saat itu pula sebuah mekanisme alami yang diciptakan Tuhan, membebaskan cairan ke dalam rangka di sayap kupu-kupu tersebut, supaya sayap itu bisa mengeras dan direntangkan, sehingga kupu-kupu itu mampu untuk keluar dan mengepakkan sayapnya. Dengan cara itulah Tuhan melatih setiap sayap-sayapnya agar kuat dan mampu untuk terbang.

Itulah kekuatan dan anugrah Tuhan pada kepada setiap kupu-kupu, sebuah proses yang luar biasa untuk bisa menunjukkan kebesaran-Nya. Di saat itu pula Tuhan memberikan jalan-Nya, jalan alami dan petunjuk yang telah digariskan-Nya. Itulah ujian Tuhan bagi kepompong yang akan berubah menjadi menjadi seekor kupu-kupu. Tuhan pasti memberikan cobaan dan ujian terlebih dahulu sebelum kepompong itu berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.

Dan pada akhirnya, setiap usaha untuk "mempermudah" setiap ujian yang diberikan itu, biasanya membuat kita alpa, membuat kita cacat, membuat kita terbuai dengan segala kemudahan. Kita bisa sering dilenakan dengan semua "kelancaran" itu. Kita kerap terbiasa untuk tak mau gigih, tak mau berjuang atas apa yang kita inginkan. Tidak memegang teguh prinsip mengejar apa yang kita benar-benar impikan, dan terhenti hanya dengan hambatan-hambatan di tengah jalan kita.

Kadangkala memang perjuanganlah yang kita butuhkan dalam hidup, untuk menemukan kualitas kehidupan yang sesungguhnya. Jika Tuhan membiarkan kita keluar dari segala kesulitan dengan tanpa halangan, maka, hal itu hanya akan membuat kita lengah. Kita tak akan bisa kuat, dan sama halnya dengan kupu-kupu tadi, kita tak akan bisa menunjukkan keindahan sayapnya pada dunia.

Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. +62 21 3283 9866

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change

Cangkir yang Cantik

(di sadur dari “Cangkir yang Cantik” ditulis oleh “Unknown”)

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka tersayang. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu", kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat", ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar”.

Cangkir itu berkata kembali, “Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. ‘Stop! Stop!’ Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata ‘belum!’ Seperti belum cukup sampai di situ, “ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. ‘Stop! Stop!’, teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku”. Dengan penuh semangat cangkir itu kembali melanjutkan, “Sekali lagi, seperti yang aku alami itu belum cukup, ia memasukkan aku ke dalam perapian. ‘Panas! Panas!’ Teriakku dengan keras. ‘Stop ! Cukup!’ aku berteriak lagi. Tapi orang ini berkata ‘belum!’"

Cangkir itu kemudian terdiam sebentar.. kemudian ia melanjutkan “Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku berkata dalam hati, ‘selesailah penderitaanku’, Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. ‘Stop! Stop!’, Aku kembali berteriak. Wanita itu berkata ‘belum!’. Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! ‘Tolong! Hentikan penyiksaan ini!’, sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas menyiksaku kini aku dibiarkannya dingin”.

Sebuah perjalanan hidup yang terlihat tidak menyenangkan, kembali cangkir itu berkata “Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku”.

Renungan

Seperti inilah ketika Tuhan membentuk diri kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, seringkali dibalut dengan proses yang tidak menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak sekali air mata yang harus kita kucurkan.Tetapi, ini adalah cara-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.

"Anggaplah ini semua sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai tantangan, kesulitan, dan ujian, sebab kita tahu bahwa ujian menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu menghasilkan buah yang matang, supaya kita menjadi sempurna dan utuh, dan tak kekurangan suatu apapun."

Ketika kita sedang menghadapi ujian hidup, apakah kita mau memilih berkecil hati atau tetap maju dengan percaya, itu adalah pilihan kita… karena Tuhan sedang membentuk kita untuk mencapai apa yang kita percaya itu.

Semua proses itu memang menyakitkan, tetapi setelah semua proses itu selesai, lihatlah betapa cantiknya Tuhan telah membentuk kita.

Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.
Professional Personal Coach
(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)
Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)
Phone. +62 21 3283 9866
http://htii.blogspot.com/
For things to change, I have to change



Hukum Kemakmuran

(disadur oleh Kirdi Putra dari judul asli “HUKUM KEMAKMURAN” oleh Unknown)

Distribusi uang dan kekayaan didunia ini diatur oleh hukum alam rahasia yang konsisten dan pasti, sepasti terbit dan terbenamnya matahari. Apabila kita melanggar hukum tersebut maka kita mengasingkan diri dari aliran kemurahan Tuhan yang melimpah. Karena hakikat Tuhan yang sejati ialah selalu memberi (giving). Bila kita menginginkan uang dan kekayaan maka satu-satunya cara ialah membuat Tuhan berhutang pada kita, dengan melakukan berbagai hal yang sesuai dengan Sepuluh Hukum Kemakmuran.

Ketika Tuhan berhutang pada kita , Ia memberi kita daya tahan melewati masa-masa percobaan. Ia membuat kita mampu melihat kesempatan-kesempatan yang biasanya tidak kita lihat. Ia memberi kita berbagai kemampuan untuk mengubah peluang menjadi keuntungan. Ia memperkenalkan kita dengan orang-orang yang tepat untuk membantu usaha-usaha yang sedang kita lakukan.

Apa saja 10 Hukum Kemakmuran itu?

1. Hukum Menghormati Kemakmuran (uang hormat pada yang menghormatinya)

Hargai dan hormatilah uang. Uang hanya menghormati orang yan menghormatinya. Apabila uang disalahgunakan, ia juga menyalahgunakan kita. Perlakukan uang dengan penuh rasa hormat dan kecintaan. Hal ini bukan berarti kita hanya patuh dan tunduk pada uang, tetapi kita mampu memberikan nilai lebih pada uang daripada sekedar alat tukar. Lagipula, uang adalah sebentuk ide, yang melambangkan salah satu bentuk kemakmuran yang diberikan Tuhan bukan?

2. Hukum Menghormati Milik Duniawi (makanan, pakaian, rumah, kendaraan)

Hargai dan perlakukan makanan, pakaian, rumah dan kendaraan dengan penuh rasa sayang dan terima kasih (bersyukur). Karena melalui semua milik kita tersebutlah alam menolong kita. Bila kita menghormatinya, maka sesuai dengan hukum kemakmuran, semua itu mampu bertambah secara berkelanjutan.

3. Hukum Menghormati Realitas Non Material (bersih, terang, jaga omongan, meditasi)

Suasana rumah yang bersih, rapi dan terang, mempunyai getaran tinggi dan menyenangkan. Getaran (vibrasi) ini mampu menarik kunjungan dan berkah dari energi kemakmuran di alam semesta. Jagalah perkataan kita untuk mengucapkan yang baik dan menyenangkan. Ketika kita bermeditasi dan berdoa dalam keheningan, bayangkan bahwa kita telah memiliki uang dan harta yang sangat banyak yang terus mengalir kepada kita. Tetaplah sederhana, karena kebahagiaan terdapat dan dimulai dari pikiran, bukan sekedar dari menumpuk barang-barang yang tidak berguna.

4. Hukum Tentang Hakikat Uang yang Menyenangkan (gembira secara spiritual)

Mulai untuk membentuk sikap bermain bersama Tuhan, adalah pengalaman yang luar biasa untuk merasakan kegembiraaan dalam bermesraan bersama Tuhan. Orang yang telah terlatih sikap spiritualnya mampu bersikap gembira pada masa-masa sulit. Jangan batasi kebahagiaan kita hanya setelah lingkungan kita berubah menjadi lebih baik. Berbahagialah sekarang juga. Tuhan mampu mengabulkan keinginan kita yang paling tidak masuk akal sekalipun. Karena bagi Penguasa alam Semesta, semua keinginan yang paling tinggi sekalipun adalah sangat kecil dan tidak berarti bagiNya. Tuhan hanya menunggu sampai kita siap untuk menerima rizki tersebut.

5. Hukum Tentang Pemeliharaan (menjaga dan mensyukuri titipan Tuhan)

Ketika kita dipercaya Tuhan menerima kekayaan dan harta benda materialNya, maka kita harus berhati-hati dalam mengelola kekayaan yang dititipkan pada kita dari Sang Maha Pencipta dengan penuh rasa hormat dan terima kasih serta menghargai kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada kita tersebut. Ketika kita mampu mengelola dan menghargai kepercayaan yang diberikan Tuhan pada kita, sekecil apapun, maka semua yang kita kelola tersebut ditambah sedikit demi sedikit oleh Tuhan pada kita. Begitu pula sebaliknya kalau kita tidak mampu mengelola dan menghargai kepercayaan tersebut.

6. Hukum Tentang Mimpi (fokus pada satu impian)

Kejarlah satu mimpi yang paling kuat dan tempatkanlah mimpi yang lainnya sebagai hobi. Lalu kita bisa mewujudkan mimpi utama menjadi kenyataan, asalkan kita tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dan tenaga pada beragam hobi atau mimpi lain yang lemah. Setiap hari lakukan sesuatu yang tidak biasa kita kerjakan atau sesuatu yang kita pikir tidak bisa kita kerjakan. Sebenarnya tanpa kita sadari ada suatu potensi di dalam diri kita yang sangat dahsyat, yang seringkali belum kita manfaatkan. Akan sangat menyenangkan bila kita berkenalan dengan potensi di dalam diri kita tersebut.


7. Hukum Tentang Kesendirian (bicara secara imaginasi)

Dengan menyendiri dan berkomunikasi dengan Tuhan, kita mendapatkan ketenangan pikiran dan nafas yang tenang, Kita bisa meminta petunjuk untuk memecahkan problem-problem yang kita hadapi. Seringkali yang terjadi, bukan doa kita tidak dijawab, tetapi kita hanya belum memperoleh jawaban atau bahkan sebenarnya Tuhan sudah menjawab, tetapi kita tidak mendengar jawabanNya. Berbincanglah dengan Yang Maha Kuasa atau dengan siapapun yang kita anggap luar biasa (yang ingin kita jadikan tauladan, bisa orang-orang yang kita kenal atau tokoh-tokoh yang luar biasa) secara imaginer. Bayangan wajah mereka mampu mengilhami inspirasi dan kreativitas kita, yang memunculkan ide-ide brilian yang menghasilkan uang dan kekayaan. Ketika kita mengalami kebahagiaan dalam hati, maka kesengsaraan dunia ini tidak mampu menyentuh kita.

8. Hukum Tentang Keharmonisan (menghindari pertengkaran)

Harmoni dan rasa damai menghasilkan dan melahirkan kekayaan. Gelombang harmonis dalam hidup mampu menciptakan getaran magnetik positif yang menarik kekayaan dan keberuntungan. Untuk tiap ucapan yang kurang baik atau kasar yang kita arahkan menjadi sesuatu yang positif (bukan dipendam dalam hati), kita dibayar kembali oleh alam semesta dengan ganjaran rezeki yang nyata. Hindari pertengkaran dengan siapapun yang tidak menghasilkan apa-apa dan sekedar memenuhi hati dan pikiran kita dengan berbagai hal yang negatif.

9. Hukum Tentang Memberi (memberi dengan suka cita)

Bila kita akan memberi sesuatu pada seseorang, berilah dengan penuh suka cita dan keiklasan. Jangan memberi karena terpaksa atau hanya karena suatu kewajiban. Kalau kita tidak suka dan tidak mau memberi, jangan memberi. Jangan meminta-minta kepada orang lain atau memanfaatkan kemurahan hatinya. Saat kita memberi, jangan memberi untuk mempertontonkan kemurahan hati kita. Semua niat dan perasaan ketika kita memberi sesuatu pada seseorang akan berbalik pada kita. Suka cita dan keiklasan yang mendasari pemberian kita, mampu menarik berbagai keberuntungan dan peluang dalam hidup kita, yang perlu kita lakukan hanyalah peka dan menyadari berbagai rizki tersebut.

10. Hukum Tentang Perubahan (berubah untuk mencapai tujuan)

Tidak ada yang pasti didunia ini kecuali perubahan. Biasanya, banyak orang yang tidak yakin bahwa perubahan hidupnya adalah untuk sesuatu yang lebih baik, maka biasanya mereka tidak menyukai terjadinya perubahan Satu-satunya yang perlu kita lakukan untuk keluar dari masalah keuangan adalah dengan mengubah beberapa hal dalam hidup kita. Setiap hari, cara pikir, cara bertindak dan cara kita merasakan sesuatu membentuk alur hidup kita. Kita harus mempunyai komitmen untuk menghormati perubahan; transformasi secara alamiah akan terjadi dengan sendirinya. Tuhan kadang perlu mengguncang perahu rutinitas hidup kita, sebelum menurunkan kekayaan dan kemakmuran yang sangat membahagiakan.

Itulah 10 hukum kemakmuran, yang hanya merupakan ”aturan main” bersama, antara Tuhan, alam semesta, dan kita. Apakah kita mau menikmati ”permainan” yang sudah disediakan ini? Kita bisa bebas untuk memilih...