Showing posts with label HTII Q N A. Show all posts
Showing posts with label HTII Q N A. Show all posts

Q & A : Orang yang Saya Sayangi Menderita Kanker

Q & A bersama Kirdi Putra

Q : Seorang sahabat saya, yang sangat berarti dalam hidup saya, divonis Dokter terkena kanker darah (leukemia). Rasanya sedih sekali melihat keadaannya setiap kali sehabis menjalani pengobatannya.

Apakah sahabat saya masih punya harapan untuk sembuh? . Gun (34 th) - Bandung


A:
Ikut bersedih untuk mendengar penderitaan sahabat kita itu, termasuk simpati untuk semua penderita kanker yang berjuang menyelami hal yang sedang dialami mereka. Masih punya harapan untuk sembuh? Tuhan, dalam seisi alam semestanya, telah menciptakan sebuah sistem yang adil dan seimbang, sehingga jika ada penyakit, tentu pasti ada kesembuhan yang bisa menyertainya, sehingga jawaban pertanyaan itu adalah pasti selalu ada harapan untuk sembuh.

Seperti layaknya semua penderita kanker, dimana ketika dokter memberikan vonisnya, tentu bagi kebanyakan orang, merupakan berita yang mengguncangkan, menyedihkan, bahkan terkadang, ada yang sebenarnya telah kehilangan semangat hidupnya, di hari vonis itu didengarnya. Terkadang, bila saya membaca atau mendengar sebuah kisah nyata, bagaimana seseorang terkena kanker, atau bagaimana seseorang itu berjuang didalam penyakitnya, entah ia kemudian tetap hidup untuk menceritakan perjuangannya maupun semangatnya yang bisa menjadi cerita dan inspirasi kita, karena ia telah meninggal karena penyakitnya itu, semua itu selalu mampu membuat saya berkaca-kaca, dan terkadang menitikkan air mata saya. Saya bisa membayangkan dan merasakannya, untuk berada di posisi itu, untuk mendengar vonis dokter, untuk melihat orang-orang di sekitar berusaha untuk tersenyum, tetapi hati mereka juga menangis.. juga apabila orang yang saya sayangi harus menderita karena penyakit itu... jelas terbayang dan terasa oleh saya... dan saya juga merasa bahwa sedih, takut, dan putus asa merupakan sikap dan reaksi yang wajar, bukan sesuatu yang harus berusaha dihilangkan... bahkan sebisa mungkin, nikmati perasaan ini...

Pertanyaan yang muncul adalah, sampai seberapa lama? Pertanyaan yang bagus... karena kita memiliki emosi, dan merupakan sebuah anugrah untuk dapat merasakan, sedih, takut, putus asa, dan terkadang kemarahan yang amat sangat... keluarkan, karena justru akan merusak di dalam kalau kita putuskan untuk memendam semua emosi itu.. arahkan ke arah yang tepat... beri ruang pada diri kita sendiri untuk meratap... karena pelangi yang terindah biasanya muncul setelah hujan yang paling deras..

Masihkah ada harapan? Pertanyaan itu seharusnya kita balik.. sahabat kita itu akan mampu untuk bertahan bahkan sembuh dari apa yang dideritanya sendiri bila ia masih memiliki harapan yang besar untuk sembuh... harapan memang bukan obat ajaib, yang sanggup menyelesaikan segala masalah seperti yang kita inginkan, bukan... tetapi harapan merupakan suatu kepastian yang harus kita miliki untuk mampu berjuang menghadapi apapun yang terjadi pada kita saat ini, maupun menghadang jalan dan langkah kita ke depan...

Apakah anda pernah mendengar kisah seorang anak perempuan penderita Leukemia (kisah ini merupakan kisah nyata di jepang), dimana seluruh keluarganya tahu bahwa umur anak tersebut tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi? Anak perempuan itu tidak pernah putus berharap, bahwa suatu hari ia bisa kembali sehat dan bermain bersama kawan-kawannya lagi. Suatu malam, ia bermimpi, bahwa jika ia membuat 1000 buah burung origami (origami merupakan seni melipat kertas, dilipat menjadi berbagai macam bentuk, burung, kodok, bangau, dll), maka Tuhan akan memberikannya kesembuhan. Dan, apa yang dilakukannya? Keesokan harinya ia mulai melipat kertas untuk membuat burung origami tersebut. Hari demi harinya, dilaluinya untuk membuat burung dari kertas tersebut. Keadaan anak tersebut semakin lemah, semua orang di sekitarnya menyarankannya untuk beristirahat, tetapi ia tetap berpegang pada harapannya, terus ia membuat burung kertasnya... ia percaya bahwa ia akan terbebas dari penyakitnya, begitu ia menyelesaikan 1000 burung kertas di mimpinya. Semua orang yang melihat keadaannya akan menangis melihat semangatnya. Akhirnya, pada suatu hari, dengan kondisinya yang sudah begitu lemah, ia berhasil menyelesaikan burung kertasnya yang ke 1000, dengan susah payah, tangan mungilnya yang lemah menyelesaikan lipatan kertasnya yang terakhir. Ia tersenyum dan saat itulah ia menutup matanya untuk beristirahat...untuk selamanya...(setiap kali saya menceritakan atau menuliskan kisah ini, saya pun tidak mampu untuk tidak meneteskan air mata saya). Anak perempuan itu memperoleh apa yang menjadi harapannya selama ini, bebas, lepas dari penderitaannya, kembali menyatu bersama sang Maha Kuasa. Tapi apakah yang membuatnya mampu untuk bertahan, dan bahkan menutup matanya dengan senyum di wajahnya? Harapan.

Anda pernah membaca atau mendengar kisah seorang pembalap sepeda yang terkena kanker Prostat? Ya, ada sebuah kisah nyata, dimana ada seorang pembalap sepeda yang terkena kanker prostat (stadium 3), dimana seperti layaknya kebanyakan orang yang divonis seperti itu, dunianya seakan runtuh, seakan kehidupan telah direnggut dari dirinya. Dokter menyarankannya untuk berhenti dari olah raga yang dicintainya, untuk menjalani kemoterapi. Dalam hari hari yang penuh dengan kesedihan dan ketakutannya, iapun menyadari, bahwa ia tidak dapat menolak hal yang sudah terjadi pada dirinya, tetapi ia mampu untuk memilih reaksi atas apa yang menimpa pada dirinya. Akhirnya, setelah ia menangis, meratap, dan merenung, iapun berdiri, dan memandang tegak ke depan, dan memutuskan, ”saya akan sembuh, dan saya akan bersepeda kembali, dan saya akan memenangkan apa yang menjadi hak saya... saya akan ikut Tour de Franc, dan saya akan menang...”. Anda tahu apa yang terjadi? Pria itu, setelah beberapa tahun berjuang melawan kankernya, ia dinyatakan sembuh oleh dokter, dan diperbolehkan untuk kembali berlatih bersepeda, dan dia membuktikan semua ucapannya. Pria itu, mengikuti kejuaraan berkelas dunia di prancis, Tour de Franc. Pria itu tidak hanya memenangkan kejuaraan balap sepeda kelas dunia itu sekali, tetapi 7 kali, ya, pria itu tidak lain adalah Lance Armstrong, seorang pembalap sepeda kelas dunia. Menurut anda, apakah yang membuatnya bisa sembuh dan bangkit kembali? Ya, Harapan.

Jadi, kalau saya harus menjawab pertanyaan, apakah orang yang kita sayangi masih punya harapan untuk sembuh? Maka, saya akan kembali bertanya, apakah ia masih punya harapan sebagai orang yang masih hidup dan mau menjalani kehidupannya kembali?

Bagaimana cara membantunya untuk meringankan apa yang dideritanya?

Banyak.. dari membangun motivasinya dari dalam, mengingatkannya bahwa apapun yang terjadi pada dirinya, ia tetap dapat memilih reaksi yang dilakukannya.. dan yang terpenting, apapun yang kita lakukan, lakukan dengan hati, lakukan dengan kasih sayang.

Terkadang memang sulit untuk bisa memahami kesedihan, kemarahan, dan ketakutan seseorang. Bayangkan, kalau kita yang berada dalam posisi tersebut, untuk menghadapi sebuah penyakit yang (katanya) belum ada obatnya... tidak salah bagi siapapun yang hanya melihat kegelapan dan jalan buntu di hadapannya... tapi itulah yang membuat jelas apa yang dibutuhkannya, sedikit cahaya terang, harapan...

Tunjukkan bahwa apa yang dideritanya, bukanlah sebuah akhir, tapi awal yang baru... bahwa rasa sakit, sedih, marah, dan takut bukanlah untuk dilupakan dan dihilangkan, tapi untuk diberikan waktu, untuk dinikmati... bahwa emosi itu manusiawi, dan ia sanggup untuk menentukan targetnya sendiri, kapan ia selesai melepas semua emosinya itu, dan siap bangkit... dan kita ada di sampingnya... untuk menjadi tangan yang menahannya ketika terjatuh, untuk menjadi matanya ketika dunia terasa gelap, untuk menjadi telinga yang mendengar semua derita dan kepediahnnya... ada di sampingnya saat ia membutuhkannya...

Tahukah anda, bahwa proses penyembuhan, misalnya kemoterapi, menjadi tidak lagi efektif, ketika penderitanya telah kehilangan semangat hidupnya? Ya, kondisinya akan sangat berbeda, dibandingkan penderita yang menjalani proses penyembuhan, dan memiliki harapan hidup yang besar (karena akan mempengaruhi kadar endorfin dalam tubuh, meningkatkan imun system dalam diri, repiratory yang lebih baik, dll). Jadi, kita bisa bantu orang yang kita sayangi itu, untuk mengingatkannya, untuk memandunya, untuk mendampinginya, bahwa ia bisa memberikan perhatian dan fokusnya, pada kesembuhannya, bukan penyakitnya... fokuslah pada tujuan.. bukan rasa sakit yang menderanya... pandulah melalui pengalaman yang dirasakannya, bahwa segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan (everything happen for a reason).. dengarkan dia..

Lama kelamaan... salah satu kekuatan yang sangat berpengaruh pada tubuh kita... pikiran bawah sadar kita... terpengaruh... oleh fokus kita... oleh hal yang kita konsisten tanamkan berulang-ulang... dan kekuatan pikiran bawah sadar inilah yang akan mengaktifkan semua unsur pendukung (kadar endorfin, imun sistem, perbaikan dalam respiratory, peredaran darah, dll) untuk kesembuhan... dan sekali lagi, selalu ingat dan tanamkan harapan... beranilah untuk berharap, karena manusia hidup dan maju dengan kekuatan harapan... beranilah untuk berharap...

Menangislah, karena air mata itulah yang menyejukkan hatimu...

Merataplah, karena suaramu itulah yang menyampaikan doamu...

dalam,

kepedihan,

ketakutan,

kemarahan...

semuanya engkau yang merasakan,

semuanya engkau yang memperjuangkan,

semuanya,

adalah pilihanmu...

menangislah, karena akan terbit esok oleh senyummu...

merataplah, karena akan kuat esok oleh juangmu,

berjuanglah,

bukan karena takut terkalahkan,

berjuanglah,

karena engkau tahu kemenangan telah menunggumu...

berjuanglah...

- Kirdi Putra 07/08/2007

Q&A : Anakku Tidak Punya Rasa Takut



Bersama Kirdi Putra

Q: Anakku tidak punya rasa takut, tokoh kartun yang tidak mati-mati, membuat anakku tidak takut pada apapun. Bagaimana menjelaskan antara kenyataan dengan dunia kartun?Ani-Jakarta

A: Menjelaskan antara kenyataan dengan dunia kartun merupakan hal yang cukup menantang untuk dilakukan bagi anak-anak, karena masa anak-anak adalah masa ketika semua nilai dan kepercayaan dalam diri dan pikiran terbentuk, sehingga pikiran seorang anak kecil, itu seperti spons. Karena pikiran seorang anak mirip seperti spons, menyerap segalanya seperti apa adanya, maka apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan, itulah merupakan kenyataan baginya. Jadi apa yang harus kita lakukan, apakah kita harus selalu mendampingi dia untuk tiap film yang ditontonnya? Tentu jawaban pertanyaan ini akan bertabrakan dengan waktu kita sebagai orang tua kan?

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Benar, bahwa kita harus mendampingi anak kita ketika menonton acara-acara di televisi, dimana bahkan untuk beberapa tayangan kartun, bisa saja terjadi salah persepsi mengenai apa yang bisa dilakukan di dunia nyata dengan tidak. Yang kita lakukan ketika mendampingi anak kita, sambil menonton tayangan kartun tersebut, sambil bermain tanya jawab dengan anak kita itu. Tanyakan pada dia ”itu beneran atau bukan?” (seorang anak akan lebih suka dan lebih cepat menangkap untuk hal-hal yang berbentuk permainan dan interaktif, apalagi dengan orang tuanya), kalau jawabannya salah, tidak perlu bilang ”Kamu salah”. Kenapa? Karena dia belum tahu atau belum masuk di pikiran bawah sadarnya, mana yang salah dan mana yang benar. Cukup kasih tahu ”Yang benar ini....” sambil beritahu mana yang benar/ nyata. Kalau benar? Berikan penghargaan, misalnya dengan tepuk tangan bersama-sama, dengan kecupan mesra, dan banyak lagi yang bisa kita berikan untuk sang buah hati.

Nah, diakhir acara nonton film bersama-sama ini, kita beri sebuah ”wejangan”, seperti ”Nah, kamu kan pinter, jadi yang boleh, yang tadi kamu bilang bener ya... yang salah, itu Cuma untuk film, kan kamu orang beneran, beda sama film”.

Banyak hal-hal kecil yang bisa kita komunikasikan dengan si buah hati, Cuma butuh kesabaran dan kesadaran kita dahulu...

Bagaimana membuat anak tahu antara yang bahaya dengan yang tidak?

Sebetulnya seorang anak sama persis seperti kita, mampu menyerap berbagai hal di sekelilingnya, tinggal bagaimana kita mengerti jalan pikirannya, sehingga kita mengenal bagaimana cara berkomunikasi yang tepat dengan logika seumur anak kita.

Ajak buah hati kita bermain-main. Misalnya, daerah rumah kita adalah daerah yang banyak ular masih sering masuk ke area rumah. Maka kita ingin mengajarkan dia, bahwa ular berbahaya, karena terkadang bisanya bisa mematikan. Maka yang kita lakukan adalah, mengajaknya menonton tayangan mengenai ular, atau melihat buku dengan gambar-gambar ular. Kemudian, katakan pada anak kita sambil bermain, dengan menggunakan tangan kita, seolah-olah seekor ular, dan kita katakan ”kalau ini ular, dan dekat sama kamu, trus kalau di pegang, dia nggigit... kayak gini!” (sambil tangan kita mencontohkan menggigit anggota tubuh si anak). Hal ini bisa diulangi beberapa kali, sambil kemudian kita beri tahu anak kita solusinya, ”nah, caranya biar gak digigit ular gimana?”. Biarkan dia memikirkan caranya sendiri, kita hanya memberikan panduan, misalnya dia nggak bereaksi ”mama/papa lari ah, naik ke atas meja kalau ada ular”, atau ”kalau liat ular, lari ke arah lain yang gak ada ular (sambil berlari, biarkan buah hati kita mengikuti)”.

Atau misalnya, kita mau mengajarkan ke anak kita mengenai ketinggian. Rata-rata tokoh kartun di film, kalau jatuh, gak mati-mati.. kita bisa ajarin anak kita untuk bermain loncat-loncatan, dari yang tingginya kita masih bisa loncat ke bawah (bersama-sama), sampai pada ketinggian yang bisa kita kira-kira anak kita gak bisa loncat, baru kita bilang, ”kita belum bisa loncatin ini, nanti kalo kamu sudah agak besar, baru bisa kita loncat lagi..”, trus kita kembali ulangi dari awal, sampai dia berhenti pas ketinggian yang dia belum bisa loncati.

Mudah? Nah, sekarang saatnya mencoba kan...

Bagaimana membuat anak mengerti mana yang harus berani mana yang harus ditakuti?

Intinya, ketika kita bicara dengan seorang anak (usia 3 – 7 tahun), sampaikan segala sesuatu dengan cara yang FUN, yaitu sebisa mungkin dengan permainan. Ini adalah salah satu bentuk komunikasi, yaitu komunikasi non verbal. Ketika kita mencoba mengkomunikasikan maksud kita HANYA dengan kata-kata, maka seringkali tidak memperoleh tanggapan yang sesuai dari anak kita, bukan karena dia tidak mau atau tidak mengerti, bukan, tetapi terkadang persepsi dan logika yang ditangkap berbeda.

Seorang anak, masih dalam proses pembentukan nilai dan kepercayaan, yang semuanya itu merupakan proses bawah sadar seseorang, jadi ketika kita mau membentuk nilai dan kepercayaan, misalnya membedakan mana yang harus berani, dengan mana yang harus ditakuti, maka gunakan bahasa bawah sadar, yaitu komunikasi non verbal.

Apa itu komunikasi non verbal? Begini, misalnya kita mau ajarkan anak kita untuk tidak takut pada gelap (sementara kebanyakan tayangan di televisi justru menakut-nakuti anak-anak dengan tayangan tentang hantu-hantu, sehingga langsung menyamakan bahwa kondisi gelap pasti berhantu), kita bawa buah hati kita ke depan ruangan yang gelap. Ketika dia ketakutan, katakan ”di kamar gelap ini sama kayak kamar lainnya..”, lalu yang kita lakukan, nyalakan lampu di ruangan itu, ajak si kecil masuk, kemudian ajak keluar lagi. Lakukan berulang ulang. Setelah dia mulai berani, berikan alat untuk dia bisa menjelajah ruang gelap itu, yaitu senter. Setelah berulang-ulang kali, dan sudah ada keberanian dari dirinya, ajak ia masuk bersama-sama, tanpa senter tentu saja.

Inilah yang kita sebut komunikasi non verbal, yaitu komunikasi dengan langsung dipraktekkan dan dengan bahasa tubuh.

Siap mencoba untuk sang buah hati? Siapa takut...

Dari email htii.school@yahoo.com


Salam kenal mas kirdi

Kemaren saya dengar talkshow mas kirdi di radio Ramako, yg salah satunya membahas The Secret. Saya sdh baca dan tonton dvdnya, sangat bagus, sampai seluruh kantor saya suruh tonton vcdnya.

Saya ingin coba menerapkannya cuman gimana ya?

misalnya untuk:

1. Kalau saya ingin keluarga saya rukun dan bahagia, anak-anak tidak nakal dan nurut sama orangtuanya, manteranya gimana?

2. Kalau ingin dapat lotery/undian, manteranya gimana?

Sekian dulu mas, terimakasih atas bantuannya

A di JKT

Jawaban Mas Kirdi Putra

Terima kasih untuk perhatiannya pada saya di Ramako (105.8 FM), semoga bisa membawa sesuatu yang positif buat kita semua. Sehubungan dengan pertanyaan bagaimana cara menciptakan kerukunan dan kebahagiaan di keluarga, juga anak-anak yang tidak nakal dan nurut dengan orang tuanya, benar-benar pertanyaan yang sangat menarik.

Seperti yang telah diketahui, bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, maka sebenarnya alam semesta dan pikiran kita telah mengarahkan diri kita untuk mencapai apa yang kita inginkan tersebut. Yang menentukan tercapainya sebuah keinginan, cita-cita, atau tujuan adalah:

Detail. Seberapa detail kita memikirkan, membayangkan, dan membentuknya dalam pikiran kita. Semakin jelas dan pasti apa yang kita inginkan (tujuan) itu, maka dapat dipastikan apapun yang terjadi dalam hidup kita, suatu saat kita pasti sampai di tujuan yang kita inginkan tersebut. Maksudnya? Misalnya begini, katakanlah kita sedang nyetir mobil (yang sangat canggih). Kita merasa sangat nyaman di dalamnya, tetapi sambil terus mengemudi, kita tidak bisa menentukan tujuan kita. Sambil terus berpikir, mau kemana kita, kita tetap harus memperhatikan jalanan bukan? Supaya tidak masuk lobang, tidak menabrak, tidak nyerempet, dll. Kita terfokus pada hal-hal kecil, sedangkan tujuan yang sebenarnya kita bisa capai malah tidak tercapai (padahal kita punya kendaraan yang memungkinkan kita mencapai tujuan kita kan?).

Membayar. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Maksudnya? Ketika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus mau membayar harganya (if you really want something, then you have to pay for the price). Jadi, ketika kita sudah mengarahkan pikiran kita ke sebuah tujuan, maka kita WAJIB untuk mulai memikirkan pelajaran (hikmah) dari setiap hal yang terjadi pada diri kita (baik itu terasa menyenangkan maupun tidak menyenangkan, tetapi itu sudah DIRANCANG sedemikian rupa, oleh alam semesta dan PIKIRAN kita sendiri, secara bawah sadar, untuk kita mencapai apa yang kita inginkan). Misalnya gimana? Misalnya kita sudah memprogram pada diri kita, bahwa kita adalah orang yang mampu menarik rejeki. Tiba-tiba, ada seorang rekan lama kita yang menghubungi kita dan menawarkan sebuah peluang, katakanlah MLM. Seringkali, banyak orang yang kemudian menolak (baik secara langsung maupun halus). Padahal kalau kita mau meluangkan waktu bertanya pada diri kita sendiri, kenapa rekan lama kita tiba-tiba menawarkan peluang itu kepada kita? Nah, ketika kita meluangkan waktu untuk berpikir, untuk datang memenuhi undangan teman kita itu, untuk berkenalan dengan orang-orang baru, berarti kita mau membayar untuk peluang yang datang ke kita (dengan waktu, tenaga, atau biaya). Setelah itu, sebenarnya kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya dapat/pelajari ya?


Nah, untuk pertanyaan A tadi, menurut saya, kita dapat memulai dengan mendefinisikan secara lebih jelas/detail, seperti apa rukun dan bahagia yang dimaksud (kan rukun dan bahagia untuk tiap orang berbeda-beda). Bayangkan sejelas-jelasnya, sampai kita bisa membayangkannya secara detail dan terinci.

Mantranya?

Setelah kita bayangkan secara detail dan kita bisa merasakan bahwa kerukunan dan kebahagiaan itu sudah terjadi pada kita, katakan pada diri kita sendiri

“Saya bersyukur/berterima kasih atas kerukunan dan kebahagiaan seperti ini”


Kenapa seperti itu mantranya?


Perlu kita ketahui dan ingat, bahwa ketika kita iklas atas suatu hal, berarti kita mensyukuri apa yang kita peroleh. Untuk mengundang kerukunan dan kebahagiaan itu, maka syukuri terlebih dahulu.

Apa yang terjadi setelah itu?

Kita tidak akan luput dari pertengkaran, perbedaan pendapat, perselisihan, dan berbagai hal yang tidak menyenangkan lainnya. Ketika kita mengalami hal ini, tenangkan diri kita, tarik nafas panjang, sehingga kita akan lebih mampu bertanya pada diri kita sendiri, ”Apa hal yang dapat saya peroleh/pelajari dari hal-hal ini?”

Nah, karena mantra yang selalu kita ucapkan tadi (bersyukur), maka kita mampu lebih mudah untuk mendapatkan hikmah dan pelajaran, sehingga, kita mampu untuk mencapai kerukunan dan kebahagiaan yang kita inginkan (sebagai tujuan kita).

Mantra untuk mendapat undian/lotere?

Waduh, memang ada cara untuk menarik peluang dan rejeki, yang ketika kita secara rutin memasukkan pola sukses dan kaya ke dalam pikiran bawah sadar kita. Lebih baik kita menjadikan diri kita MAGNET untuk keberhasilan, keberuntungan, dan kekayaan, dan semuanya ini tetap ada HARGA yang kita harus bayarkan. Apa? Kemauan untuk belajar dari apapun yang terjadi pada kita, karena semua hal terjadi karena sebuah alasan tertentu.

”Everything happen for a reason”

Daripada kita mengharapkan undian atau lotere, yang tentu saja bukan tidak mungkin kita dapat lho.. (ketika kita memang sudah waktunya mampu menarik keberuntungan itu pada diri kita, mungkin-mungkin saja terjadi), dan kita masih dalam mode menunggu (waiting mode), lebih baik kita isi waktu kita dengan hal-hal yang lebih produktif dan berkarya, sambil belajar dari kehidupan. Percayalah, bahwa peluang dan rejeki itu justru datang lebih cepat lagi (tentu tetap dengan ada waktu, biaya,dan tenaga yang kita keluarkan, tetapi jumlahnya tidak memberatkan kita).

Nah, untuk kenakalan anak, sebenarnya seringkali kenakalan merupakan bentuk lain dari kreativitas dan inisiatif. (tentu kenakalan yang dapat di tolerir, bukan yang sudah mengarah pada suatu hal yang destruktif, yang merugikan diri dan orang lain). Bagaimana untuk menghadapi dan memanage kenakalain anak, lebih jelasnya, silahkan melihat beberapa artikel saya tentang anak (Contoh: Anakku Tidak Bisa Dilarang, Anakku Suka Mengumpat, dll).

PERTANYAAN Via HTII.SCHOOL@yahoo.com

uwi_yuli <uwi_yuli@yahoo.com> wrote: Halo,

Boleh saya minta masukannya untuk anak saya Ezra (3 tahun 9 bulan). Udah 3 hari ini kalo ngomong tuh tergagap gagap ya. Nggak tau gimana awalnya. Misalnya mau bilang mau makan "esa ma ma ma mau makan"....gitu deh. Saya suruh dia ngulang ngomongnya sampe bener.
Tapi ya nanti terulang lagi gagapnya. Duh kenapa ya?

Terus nih , dia juga gak mau masuk rumah orang. Sebel deh. Sampe bingung. Kan ceritanya natalan kemaren mesti sowan ke rumah sodara-sodara, nah Ezra sama sekali nggak mau masuk ke rumah yang kita kunjungi. Disuruh masuk malah nangis kenceng. Ya udah dia di halaman
aja jadinya sama mbaknya.

Satu lagi....koq makin lengket banget nih sama ibunya. Ibunya mandi, mau BAB, mesti ikut, kalo nggak bisa jerit2 sambil mukulin pintu . Udah gitu kalo bobo, dia bisa terbangun buat mastiin ibunya tidur di sampingnya. Masalahnya saya sering begadang buat bikin kue, jadi yang ada dia bisa terbangun beberapa kali. Gimana ya ?

Please ya masukannya. Asli nih lagi bingung banget.

Terimakasih

YULI

Ibu, saya Mas Kirdi Putra menjawab sharing ibu ke saya, terima kasih:

Berarti ini kasus gagap dadakan ya? Banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang berubah model komunikasinya, khususnya untuk anak kecil yang masih dalam tahap belajar, polos. Gagap bisa disebabkan oleh banyak hal, beberapa diantaranya adalah akibat trauma atas suatu hal atau kebiasaan yang ditirukan (dari lingkungannya, teman, orang tua, TV, dll). Apa yang bisa kita lakukan? Tindakan yang dilakukan sudah tepat, membawa anak pada model komunikasi awalnya (tidak gagap, lancar), tetapi kenapa belum permanen? Karena saat ini, hal yang tertatam dalam pikiran si anak adalah ”gagap”, dan hal inilah yang sedang di eksplorasi oleh pikirannya sendiri (asik dan menyenangkan untuk mengeksplorasi sesuatu hal yang baru).
Berdasarkan fakta inilah, maka kita dapat menciptakan ”kegemaran” yang lama di pikirannya, lancar berbicara. Kenapa harus seperti itu? Kita bisa ”memaksa” anak untuk kembali ke cara bicaranya yang lama, tetapi untuk beberapa kasus, justru bisa menciptakan ketegangan dan perasaan tertekan pada anak (walaupun memang dapat pula berhasil). Metode untuk menciptakan ”kegemaran” bicara lancar ini seperti yang sudah dilakukan, tetapi dilengkapi dengan:
  1. Penyampaian dengan permainan
  2. Perbandingan yang menyenangkan
Contohnya?
Misalnya kita mengajaknya untuk bermain tebak kata.. Kita melakukan suatu aktivitas (seperti pantomim), dan minta anak kita menebak apa yang sedang kita lakukan. Ketika anak mampu menebak dengan tepat, misalnya aktivitas ”MAKAN”, kita tanyakan pertanyaan berikutnya (dengan suasana yang fun dan menyenangkan, sambil tertawa), ”MAKAN atau MA MA MA MA KAN? Mana yang bener hayooo?”. Hal ini bisa diulangi beberapa kali, untuk beberapa aktivitas lainnya (misal. Makan, mandi, naik sepeda, cuci piring, dll), sampai semua jawabannya menunjukkan pola yang benar (bicara yang lancar).
Itu merupakan pola dan metode yang bisa diterapkan untuk mengubah sebuah pola pemikiran seorang anak. Bagaimana hasilnya nanti? Tentu saja tiap anak adalah unik, luar biasa, sehingga yang bisa kita lakukan berikutnya adalah, improvisasi. Selamat berimprovisasi...
Terus nih , dia juga gak mau masuk rumah orang. Sebel deh. Sampe bingung. Kan ceritanya natalan kemaren mesti sowan ke rumah sodara-sodara, nah Ezra sama sekali nggak mau masuk ke rumah yang kita kunjungi. Disuruh masuk malah nangis kenceng. Ya udah dia di halaman aja jadinya sama mbaknya.
Wah, ada kasus ngambek terhadap lingkungan baru? Sebetulnya, bukankah seorang anak kecil seharusnya masih polos dan mudah untuk berimprovisasi? Benar, tetapi seorang anak juga membutuhkan ruang yang nyaman menurut perasaannya (sekali lagi, bukan menurut kita lho). Nah, bagaimana caranya supaya si kecil mau masuk ke tempat yang baru? Satu hal yang perlu diperhatikan, hindari untuk memaksa.
Mengapa? Pemaksaan justru mampu menimbulkan terjadinya trauma pada pikiran si kecil. Yang bisa kita lakukan dalam kondisi seperti ini adalah kembali menggunakan metode penyampaian dengan permainan dan perbandingan yang menyenangkan.
Sebenarnya, ada banyak hal penyebab mengapa seorang anak tidak nyaman dengan lingkungan barunya. Misalnya, karena ia pernah mengalami beberapa hal yang tidak menyenangkan yang terkait (sama) dengan keaadaan yang sedang dialaminya saat itu (trauma). Contoh lain adalah karena si kecil pernah merasa sakit di dirinya ketika berada di luar rumah, dan menyamakan kondisi tersebut untuk tiap kali ia berada di luar rumah (persepsi), ini juga bisa menimbulkan hal-hal seperti yang terjadi diatas.
Banyak alasan mengapa seorang anak tidak mudah untuk beradaptasi dengan sebuah lingkungan baru. Sekali lagi hindari untuk memaksanya, jauh lebih bijak apabila kita mencoba untuk mengerti perasaannya, serta memberikannya sebuah semangat untuk mengatasi rasa takut, sakit, dan apapun yang membuatnya tidak nyaman tersebut.
Apa yang bisa kita lakukan?
Misalnya, kita bisa mengajak si kecil untuk bermain-main dahulu di luar rumah tersebut, kemudian setelah ia merasa lebih nyaman, tersenyum dan tertawa lepas, maka itu saatnya kita mulai mengajaknya bermain semakin mendekati ke dalam rumah.. berikan waktu yang cukup, tidak terburu-buru. Keterburu-buruan hanya akan menyebabkan si kecil semakin terpuruk dalam rasa tidak nyamannya. Berikan sedikit waktu dan kesabaran, dan hasilnya bukan hanya saat itu saja dapat kita rasakan, tetapi seringkali si kecil mampu ”menerjemahkan” rasa nyaman yang perlahan-lahan diperolehnya tersebut, di tempat lain.
Mempermudah kita sendiri sebagai orang tua bukan? Nah, selamat menjalankan tugas sebagai orang tua, menjalankan tugas mulia untuk membawa si kecil pada gerbang kehidupan yang lebih luas...
Satu lagi....koq makin lengket banget nih sama ibunya. Ibunya mandi, mau BAB, mesti ikut, kalo nggak bisa jerit2 sambil mukulin pintu . Udah gitu kalo bobo, dia bisa terbangun buat mastiin ibunya tidur di sampingnya. Masalahnya saya sering begadang buat bikin kue, jadi
yang ada dia bisa terbangun beberapa kali. Gimana ya?
Ketika seorang anak terlalu lengket dengan salah satu orang tuanya, bukankah itu hal yang bagus? Nah, kalau terlalu lengket? Ini yang masalah memang... pertanyaannya, mengapa itu bisa terjadi?
Banyak hal yang bisa menyebabkan seorang anak tiba-tiba seperti amplop dan perangko, menempel erat. Salah satu penyebab yang sering terjadi adalah semakin butuhnya waktu dan perhatian dari orang tuanya. Dengan makin berkembangnya usia anak, sebetulnya, secara mental, ia membutuhkan limpahan kasih sayang yang makin tidak sedikit. Hal ini akan terus terjadi sampai kalanya ia mampu untuk mandiri (bukan tergantung usia fisik, tetapi lebih pada kedewasaan usia mental si anak).
Nah, kalau sudah begini, yang perlu diperhatikan, bukan hanya tujuan membuat dia mampu kembali mandiri, tetapi cara untuk mengingatkan dan mengajarinya. Sekali lagi, hindari pukulan secara fisik maupun mental (teriakan, bentakan, dll). Kenapa? Coba bayangkan diri kita, bukan dengan pemahaman kita saat ini, tetapi saat kita juga seusia anak kita. Bayangkan betapa terkejut dan shock nya ketika kita melakukan sesuatu yang menurut kita hanya itulah cara komunikasi yang kita kenal (melalui menjerit-jerit contohnya), tetapi tiba-tiba kita menerima ”hukuman”, baik secara fisik (pukulan, dll) maupun mental (teriakan, bentakan, dll). Tentu akan terjadi kebingungan dan seringkali juga muncul perasaan bersalah. Bersalah? Iya, karena merasa telah melakukan sesuatu yang salah (walaupun ia juga tidak tau dimana salahnya).
Padahal?
Ya, padahal yang dilakukannya sederhana, mencari perhatian orang tuanya, tempat dirinya mencurahkan dan membutuhkan curahan kasih sayang. Luar biasa bukan, bagaimana cara berpikir kita seringkali membuat kita melontarkan sesuatu yg menyakitkan, padahal yang dibutuhkan anak hanya seberkas perhatian dan kasih sayang.
Jadi caranya gimana?
Sekali lagi, mainkan permainan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ajak si kecil untuk bermain-main dengan tokoh kesayangannya (tokoh superhero, boneka, dll), seolah-olah mereka adalah tokoh kesayangannya itu. Kemudian berikan nilai-nilai yang kita ingin tanamkan, misalnya ”mama/papa sayang sama Barney (dinosaurus lucu ungu totol-totol), kan Barney baik dan berani, seperti budi, jadi Barney udh waktunya bobok, jadi Barney sekarang bobok dan minta ditinggal. Barney mau nunjukin kalo Barney berani bobok sendiri.”
Lakukan berbagai permainan yang melibatkan tokoh kesayangannya itu. Karena dengan memasukkan dan melibatkannya bersama-sama, tercipta hubungan emosional dengan tokoh kesayangannya tersebut, sehingga memudahkan kita, ketika kita memberikan nilai-nilai yang kita ingin tanamkan, maka nilai-nilai tersebut akan secara mudah diambil oleh si anak (walaupun kita menanamkannya pada tokoh/boneka kesayangannya).
Sekali lagi, tetap dibutuhkan kesabaran sebagai orang tua, dan kesediaan untuk menginvestasikan waktu kita bagi anak-anak kita. Investasi? Tentu saja, bukankah anak kita merupakan investasi masa depan kita? Dan bukankah menarik, melihat cara mereka tumbuh dan belajar dari hari ke hari, yang seringkali berbeda dengan cara kita berkembang, belajar, dan bertingkah laku dulu?
Selamat merenda karir cinta, cinta pada anak, untuk masa depan mereka...
NB:
Terapi dan Workshop Hubungi: Emma 08561076322


Anakku Obesitas

Anakku laki-laki, umur 11 tahun mengalami obesitas. Dengan berat 60kg dan tinggi 130cm.

Kenapa anak bisa obesitas?
Waduh, sebuah pertanyaan yang mungkin bisa lebih baik dijawab oleh seorang dokter atau seorang ahli gizi... mungkin saya sekedar membantu dengan sedikit informasi yang memang kita miliki. Menurut penelitian oleh para ahli, pola hidup anak sekarang (pola makan dan pola bergerak) memberikan sumbangan yang cukup besar pada kecenderungan seorang anak mengalami obesitas. Junk food dan video games yang berlebihan merupakan kombinasi yang menarik (sebuah kata lain untuk, sempurna) dalam memupuk kecenderungan obesitas tersebut. Jumlah kalori yang besar yang terkadung di dalam seporsi makanan siap saji mampu menambah sejumlah penimbunan kadar lemak didalam tubuh, apalagi bila seorang anak hampir setiap hari mengkonsumsi makanan seperti ini. Juga dengan pola bergerak yang semakin kecil, dimana banyak terjadi, seorang anak lebih suka bermain dengan video games nya di rumah ketimbang harus berolah-raga dan bersosialisasi di luar. Banyak anak sekarang yang lebih memilih bermain bola di video games ketimbang harus bermain bola sungguhan di lapangan. Ini sekedar contoh, bahwa pola makan yang sudah mendukung munculnya obesitas, ditambah dengan terjadinya kemalasan gerak pada anak kita?

Tidak bisa disangkal pula, menurut para ahli, ada peranan gen (DNA, informasi genetis) didalam kecenderungan seseorang mengalami obesitas atau tidak, tetapi pola makan dan pola gerak tetap memegang peranan kunci dalam perkembangan obesitas pada diri seseorang. Berdasarkan berbagai informasi singkat ini, lebih mudah bagi kita, untuk membantu anak kita mengubah pola makan dan pola geraknya dibandingkan harus berpikir untuk mengubah struktur gen nya kan?

Apa ada terapi non obat?

Terapi non obat? Banyak jalan untuk menuju sebuah goal, banyak cara untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Ada beberapa kemungkinan terapi non obat, saat ini bisa dengan menggunakan pola pengobatan tradisional alami (herbal), bila yang dimaksud dengan obat adalah bahan-bahan kimia sintetis, atau misalnya dengan akupunktur, jika sama sekali tidak mau menyentuh bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui mulut, juga bisa dengan mengubah pola pikir dan tingkah laku (behaviour) untuk mengubah pola makan dan pola bergerak dari anak. Mungkin dengan pendekatan hypnotherapy juga bisa membawa perubahan pada beberapa pola tersebut. Pada intinya, kita mulai mengubah pola pikir anak tentang makanan dan olah raga. Seorang anak bukan tidak mampu untuk mengubah pola makan dan geraknya, tetapi seringkali mereka belum menyadari pentingnya mengatur pola makan dan pola gerak (terlebih untuk anak yang sudah mengalami obesitas).

Nah, cara menerangkan kebanyakan orang tua pada anak yang menggunakan pendekatan pola pikir orang yang sudah dewasa, itu yang membuat tulalit (tidak nyambung). Jadi, kita diharapkan untuk mengubah cara kita mendekati dan menerangkan mengapa:
  • Pola makan harus berubah menjadi makanan sehat, dengan jumlah yang terbatas
  • Pola gerak yang harus dimulai, dengan berbagai aktivitas outdoor dan mengurangi kegiatan yang tidak banyak memerlukan gerak (video game, dll)
Yang keduanya disampaikan dengan cara yang sesuai dengan pemahaman (database) pikiran anak, dan dengan cara yang fun, serta tujuan yang jelas (serta mampu mengispirasi anak untuk mau mengerjakannya tanpa disuruh apalagi diancam).

Pengetahuan inilah yang dibutuhkan oleh kita sebagai orang tua, karena perubahan kebiasaan bukanlah merupakan hal yang mudah, bahkan untuk kebanyakan orang yang telah dewasa, apalagi harus diterapkan pada seorang anak. Pengetahuan dan pengertian untuk menjelaskan dan mengajak anak melakukan perubahan kebiasaan inilah yang akan menentukan masa depan anak-anak kita kelak.

Tunggu apa lagi, mulailah dari sekarang, mari kita ciptakan generasi yang cerdas dan sehat...