Showing posts with label Artikel Untuk Anak. Show all posts
Showing posts with label Artikel Untuk Anak. Show all posts

Anak VS Orang Tua, Siapa yang Salah?


Membentuk keluarga ideal, membangun jembatan komunikasi antara orang tua dan anak

Anda pasti tahu bahwa banyak sekali problematika yang terjadi di antara hubungan antara orang tua dan anak. Dari permasalahan seputar kemalasan sekolah, susah konsentrasi, sampai pada penggunaan obat-obatan terlarang. Anda tahu bahwa terkadang hanya diperlukan cara yang sederhana untuk mengatasi permasalahan ini?

Kita tahu bahwa permasalahan seputar orang tua dan anak terkadang membingungkan, siapa yang salah? Pertanyaan seperti inilah yang seringkali justru membuat masalahnya semakin besar dan sulit untuk dipecahkan. Mengapa? Karena terkadang kita justru terfokus pada siapa yang salah, dibandingkan mencoba untuk mencari apa yang perlu diubah, dan siapa yang perlu melakukannya.

Sebenarnya kita semua memiliki potensi yang luar biasa besarnya, tetapi lingkungan lah yang memberikan peranan besar dalam membentuk karakter dan citra diri kita ketika kita beranjak dewasa. Seorang anak merupakan hasil dari program yang ditanamkan oleh orang tuanya. Perbuatan yang dilakukan oleh anak tersebut ketika ia masih kecil maupun ketika ia beranjak dewasa, merupakan hasil dari program yang diberikan oleh orang tuanya, baik secara sadar maupun tak sadar. Terlihat dengan jelas bahwa apapun yang dilakukan oleh orang tua akan berpengaruh langsung, baik yang disampaikan secara langsung (verbal) maupun tidak langsung (non-verbal).

Contoh dari sering terjadinya kesimpangsiuran program yang diterima oleh seorang anak adalah seperti kasus berikut. Sebut saja Lisa (6 tahun), saat ini dalam kondisi gundah. Seringkali kedua orang tuanya mengajarkan untuk tidak berbohong, bahwa berbohong itu merupakan hal yang tidak baik dengan berbagai macam dalih, dari agama sampai kepantasan. Tetapi yang terjadi saat ini, kedua orang tuanya pula lah yang juga terkadang menunjukkan perilaku yang sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka sendiri sampaikan. Pernah suatu ketika, saat Lisa menerima sebuah telepon dari rekan kerja ayahnya, dan ia bergegas menyampaikannya pada ayahnya. Ayahnya berkata, “Kamu bilang aja, Ayah sedang nggak ada di rumah ya sayang, bilang aja gitu…” Beberapa hal sejenis yang bertentangan terjadi semakin membuatnya bingung mengenai nilai-nilai yang akan dan harus dianutnya. Hal ini berproses di dalam pikiran Lisa, dan terkadang memberikan hasil yang sama sekali baru, seperti “Kalau gitu, aku belum boleh berbohong sekarang, tetapi kalau sudah gede, aku boleh bohong…” pikir Lisa. Kapan Lisa akan mulai berbohong? Ketika dalam pikirannya sudah ada asumsi bahwa saat itu dia sudah beranjak dewasa.

Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak sepenuhnya adalah produk dari diri mereka sendiri dan seringkali menimpakan sepenuhnya kesalahan pada si anak. Ada anak yang terjerumus ke dalam pergaulan yang negatif maupun obat-obatan terlarang, saat ini makin merasa tidak berharga karena seringkali orang tua kelewat protektif atau bahkan menyalahkan si anak secara berlebihan. Sehingga di dalam pikiran anak tersebut, hanya ada satu hal yang mampu membuatnya merasa nyaman, yaitu pergaulan atau obat-obatan tersebut.

Terlihat jelas di sini bahwa rasa sayang yang berlebihan mampu membuat si anak justru berada dalam posisi yang berlawanan. Tentu saja tidak ada orang tua yang bermaksud untuk mencelakakan anaknya, tetapi di lain pihak, seorang anak memiliki cara berpikir yang mungkin sangat berbeda. Perbedaan pola pikir inilah yang menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anaknya merupakan hal yang sangat penting. Komunikasi akan menghasilkan hubungan yang harmonis, tetapi juga mampu menghasilkan sebuah jurang yang sangat dalam, dan yang terpenting adalah, itu semua merupakan pilihan kita sendiri.

Karena komunikasi merupakan kunci dari keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak, terlebih lagi, merupakan hal yang terpenting dari jadi atau tidaknya ia seseorang di masyarakat, maka banyak aspek mengenai komunikasi yang seharusnya dipelajari dengan lebih mendalam. Ada banyak hal mengenai komunikasi yang menarik untuk dipelajari, baik komunikasi yang bersifat verbal maupun non verbal. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk meraih apa tujuan yang diharapkan. Metode komunikasi efektif, baik verbal maupun non verbal, secara sederhana dapat dipelajari dengan waktu yang relatif singkat. Komunikasi efektif yang dapat digunakan untuk berbagai macam aplikasi, seperti parenting (hubungan orang tua dengan anak), marketing, sampai pada Hypnosis (Western Hypnosis).

Jadi, apakah Anda termasuk orang tua yang ingin meningkatkan kualitas hubungan dengan anak Anda? Atau merasa bahwa ada suatu masalah dalam kehidupan anak Anda saat ini?

PARENTING CLASS:THE ASSESSMENT

PARENTING CLASS:THE ASSESSMENT

Sebuah workshop untuk mengetahui bakat, minat.. POTENSI diri

untuk parenting dan pengembangan SDM.

Type apakah anda

Apakah potensi anda

Bagaimana anda melihat dunia

Akan banyak menjawab pertanyaan pribadi

Apa yang menghalangi saya untuk maju

Mengapa saya berputar dimasalah yang sama terus menerus

Sudah banyak ganti tempat kerja? Masih belum menemukan kenyamanan?

Tahukah potensi diri anda?

Tahukah anda jalur kekayaan dan kesuksesan anda melalui apa?

Tahukah anda cara pasangan hidup anda melihat dunia?

Tahukah reaksi seseorang jika mendapatkan suatu aksi?

Kenalkah kedalaman emosi seseorang? Bagaimana mengukurnya?

Tahukah bakat anak anda?

Sifat anak dan kelompok anak (peer) anda?

Bisakah terjadi pada anda : Ilmu anda berbeda dengan bakat anda berbeda?

ketrampilan anda berbeda dengan minat anda?

Bagaimana mengetahui ini semua?

MANKIND ACCESSEMENT ( questionaire)

1. 8 TYPE ANAK (usia 0-12 tahun) ...simulasi

2. Usia 8-25 tahun kelompok sifat wanita 8 & pria 8...simulasi...

3. Merried life 16 Type parent questionaire & simulasi

MANKIND ( statement & questionaire)

1. Menerima respond (sensory) role play & questinaire

2. Menghadapi problem ( stress management) superior-inferior (games)

3. Kebiasaan yang terlihat ( personality) (luar kedalam) questionaire

4. Jalur kaya (wealth profile) games & roleplay & questionaire

5. Karakter 9 enagram ( melihat dunia): dari dalam keluar

Kelas ini di selenggarakan dengan questionaire, praktek, games, role play yang kesemuanya diperuntukan mengethaui potensi anda

Kelas ini khusus 21 tahun keatas

Maksimum 10 orang

Kelas terbatas hanya 10 orang saja agar mendapatkan hasil maksimal

Luangkan 6 jam dan Rp 600.000/ orang atau Rp. 1000.000 untuk couple

BONUS : program ulang & defract pemikiran

Gibbrish cleansing

Luangkan 6 jam waktu anda

Pengetahuan potensi diri ini membuat anda mengenali diri anda lebih dalam lagi.

Informasi ini untuk selamanya. Cukup 1 kali dalam seumur hidup mengbil test the assessment ini

Terbukti dibanyak lembaga di luar negeri telah berhasil sehingga menemukan tempat yang tepat pada waktu yang tepat pada orang yang tepat

Cock untuk SDM perusahaan, orang tua yang menginginkan banyak tentang anak.

Dibawakan langsung oleh KIRDI PUTRA, M CHt

Seorang coach, mind reader, mind blizard, telah mempraktekan sedhona methode sejak 1999. Membantu banyak perusahaan untuk tumbuh berkembang, menterapi ribuan pasien untuk masalah kejiwaan. Personal couch banyak selebriti dan perusahaan. Narasumber dari berbagai media, TV, radio dan cetak.

Psikosomatis pada Anak

By kirdi Putra


Anakku divonis oleh dokter mengalami penyakit psikosomatis.

Apakah penyakit psikosomatis itu?


Penyakit Psikosomatis (yang sekarang lebih dikenal sebagai penyakit Psikofisiologis), merupakan penyakit fisik yang gejalanya disebabkan oleh proses mental dari penderitanya. Jika dalam sebuah pemeriksaan medis, tidak ditemukan penyebab fisik atas gejala-gejala yang muncul, atau jika penyakit ini muncul sebagai akibat dari kondisi emosional, seperti kemarahan, depresi, rasa bersalah, maka penyakit ini dapat diklasifikasikan sebagai penyakit psikosomatis.


Psikosomatis disebabkan oleh berbagai masalah dalam pikiran seseorang yang memicu reaksi emosionalnya. Ketika, misalnya, seseorang merasa tertekan, stress, dan kacau, maka tubuh akan bereaksi terhadap pikirannya ini. Rata-rata reaksi tubuh terhadap pikiran yang tertekan dan/atau stress adalah dengan meningkatnya asam lambung (sehingga memicu sakit ”maag”), munculnya gejala ketombe di kepala, adanya gatal-gatal disekitar kulit di sekujur tubuh, rasa mual-mual yang berkala, semua itu biasanya disebabkan karena sebuah beban di dalam pikiran.


Beban pikiran ini seringkali menjadi sebuah ”bibit” untuk penyakit psikosomatis, karena bila tidak segera ditanggapi (baik diselesaikan, diiklaskan, dll), maka beban pikiran tersebut akan semakin kuat berada di pikiran bawah sadar, yang perlahan-lahan mulai menunjukkan gejala-gejala sakit secara fisik.


Bagaimana menyembuhkan penyakit psikosomatis tersebut?


Pada dasarnya penyakit psikosomatis merupakan hal yang sederhana. Mengapa? Karena begitu masalah yang terpendam di dalam pikiran bawah sadar diketahui, dan masalah tersebut diselesaikan, maka saat itupun pikiran memerintahkan tubuh untuk menghilangkan segala gejala-gejala yang muncul. Di situlah saatnya terjadi kesembuhan atas penyakit psikosomatis tersebut.


Masalah diselesaikan, maksudnya?


Iya, sebuah masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara, yang sesuai dengan kondisi masalah maupun diri kita saat itu. Ada masalah yang sederhana dan dapat diselesaikan sendiri, baik dengan menemukan solusi terhadap pekerjaan atau keruwetan yang sedang terjadi, atau dengan membangun sebuah perasaan iklas (release) terhadap kondisi yang sedang kita alami.


Misalnya, kita dapat mencoba mengenali dahulu penyebab penyakit psikosomatis ini, seperti kemarahan, depresi, rasa bersalah, atau apapun yang mungkin menyebabkan pikiran bawah sadar melepaskan tekanan yang terjadi padanya ke gejala-gejala fisik. Setelah kita mengenali penyebabnya (atau kondisi penyebabnya), maka kita bisa memulai untuk menerima kondisi apapun yang sedang kita alami, dan mulai membuat skala prioritas untuk menyelesaikan berbagai masalah penyebabnya satu demi satu.


Penyakit psikosomatis memang sederhana, tetapi butuh suatu tindakan yang tidak mudah untuk menyelesaikan penyakit psikosomatis, terutama untuk menggali penyebab sebenarnya, karena itu adalah salah satu kunci utama dalam menyelesaikan masalah ini. Setelah penyebabnya dapat dikenali, maka tindakan berikutnya sedikit lebih sederhana, yaitu membangun basis kenyamanan dalam diri penderita psikosomatis ini terhadap kondisi dan masalah yang menjadi penyebabnya tersebut. Dengan kata lain, mengiklaskan apa yang sudah terjadi, dan berusaha untuk mencari solusi ke depannya.


Salam keberhasilan...


Kirdi Putra, CHI, CHt.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. 08561076322

For things to change, I have to change

Mantra Menginspirasi Junior


Mantra Menginspirasi Junior
(Di sadur dari Reader’sDigest Indonesia yang Diadaptasi dari word to inspire
oleh Cynthia Dermody, Reader’sDigest Asia)


Kata dan kalimat yang kita ucapkan dalam sebuah perbincangan dengan si kecil bisa berpotensi menganggu perkembangan anak. Masa sih? Berikut ini adalah beberapa kata dan kalimat yang biasa atau umum diucapkan para orang tua, yang ternyata bisa diartikan berbeda atau bahkan lain oleh si anak. Dan selanjutnya ada kata dan kalimat yang harus diucapkan sebagai alternative yang bisa dipahami anak.



1 Orang tua: ” Kamulah yang terbaik” Diartikan anak : ” Pokoknya tugasmu membuat orang tua senang” Sebaiknya katakan: ” Kamu harus bangga dengan usaha keras kamu” Menurut penelitian Carol Dweck, PhD, psikolog sosial dari Columbia University yang mengajar di Stanford University, anak yang di puji ’berusaha keras’ bernilai ujian lebih baik daripada yang dipuji ’pandai’. Pujian terhadap kemampuan akan menimbulkan anggapan bahwa sukses datang karena mereka memiliki hal tersebut, dan itu mengurangi faktor usaha, sehingga anak takut menghadapi tantangan. Mereka bisa memilih berhenti saat mereka sedang diatas.



2. Orang tua: ”Kita tidak bisa membeli itu.” Diartikan anak: ” Segalanya harus menggunakan uang.” Sebaiknya katakan: ”Di toko ini memang banyak mainan bagus. Di rumah kita masih ada banyak mainan lain. Jadi hari ini kita tidak membeli mainan, ya” Jika anda sering mengatakan bahwa kondisi keuangan yang tidak mencukupi mengakibatkan dia tidak mampu memiliki mainan, maka dia akan merasa uang adalah sumber dari segala kesenangan dalam kehidupan. ” Jika berhadapan dengan anak lebih besar, diskusikan cara tepat untuk mendapatkan barang itu. Misalnya, sebagai hadiah kelulusan,” kata Marcy Axness, Ph.D spesialis pengembangan anak.


3. Orang tua : ”Ngga usah dipikirkan, lupakan saja” Diartikan anak: ” Kamu lucu banget deh, mirip ondel-ondel.” Sebaiknya katakan: ” Ayah paham kamu sedang kesal dan marah. Mau cerita ke ayah, kan? Ketika anak kesal, ”orang tua memberi rasa nyaman lebih besar kepada anak saat men dengarkan. Kenali mood-nya agar dia selalu mau bercerita,” kata Dr. Mel Levine, profesor paediatrik di Universitas of North Carolina, Chapel Hill.


4. Orang tua: ” Jangan bicara pada orang asing.” Diartikan anak:” Semua orang yang kamu tidak kenal akan berbuat jahat kepadamu.” Sebaiknya katakan: “ Jangan bicara dengan orang yang membuat kamu merasa tidak nyaman. Ini caranya ...” Anak jaman sekarang bertemu orang asing dimana saja dan kadang harus berbicara dengannya. Faktanya banyak kasus kejahatan terhadap anak justru orang yang mereka kenal.


5. Orang tua: ” Pinjamkan mainan ke Adek.” Diartikan Anak: ” berikan mainan ke Adek!” Sebaiknya katakan : ” Adek mau main dengan mobil kamu sebentar. Nanti dia kembalikan. Itu masih mobil kamu kok.” Menurut David Elkind, PhD, profesor di Tufts University dan penulis The Hurried Child, sampai usia delapan, anak belum menangkap konsep berbagi. Jadi sebelum mencapai usia itu, Anda dapat mulai mendidik agar dia mengurang sikap mementingkan diri sendiri. Misalnya, dengan mencantumkan lebel nama pada mainan sebelum anda mengambilnya.



6. Orang tua: “ Husss ... jangan bicara begitu.” Diartikan Anak: ” Ayah nggak mau dengar lagi kami bicara begitu.” Sebaiknya katakan: ” Ayah senang kamu mau bicara. Tapi ada satu permintaan Ayah yang tidak boleh kamu lupakan. Kata-kata kamu tadi terlalu kasar, jangan gunakan kata-kata itu lagi, ya” Berhati-hatilah saat anak mengeluarkan kata-kata kasar ketika dia berbicara dengan anda. ” Orang tua seharusnya merasa beruntung jika anaknya mengajak bicara,” kata Vicky Panaccione, Ph. D, pendiri Better Parenting Institute di Melbourne, Florida. Namun jika orang tua terlalu fokus kepada kata-kata saja – Lalu Marah – anak akan diam, dan dialog akan terhenti. Dengarkan, lalu bicarakan keberatan anda tentang kata-kata itu diakhir dialog.

Emma Dewang – HTII Tim

SERI – CARA MEMBENTUK ANAK MENJADI NAKAL



By Kirdi Putra

Berikan banyak batasan dan larangan pada anak




Larangan dan batasan yang diberikan pada seorang anak yang bertujuan untuk menjadikannya manusia yang lebih baik seringkali justru menghasilkan sebaliknya. Contoh paling mudah adalah ketika kita menggunakan kata sederhana “jangan”. Kata-kata “jangan” merupakan salah satu kata yang sangat sering kita gunakan untuk memberikan larangan pada seorang anak. “Jangan Nakal”, “jangan naik-naik”, “jangan membantah”, dan masih banyak lagi yang lainnya.



Tapi, pernahkah kita melihat efeknya ke diri kita sendiri? Misalnya, ada seseorang yang berkata pada kita “Tolong jangan bayangkan, ada seekor gajah yang berwarna merah muda, pakai kaos kaki berwarna kuning, dan belalainya berwarna biru, dan gajah itu pakai topi kerucut warna hijau terang…”. Coba, apa yang terjadi dalam bayangan kita, justru terbayang? Luar biasa bukan, apa yang dilakukan oleh pikiran kita.



Kita bertanya-tanya, kenapa hal itu terjadi? pada dasarnya, pikiran kita tidak bisa menghilangkan apa yang tidak ada sebelumnya. Jadi, ketika kita memberikan kata “jangan bayangkan”, pikiran akan terlebih dahulu menciptakan apa yang dilarang untuk dibayangkan, baru kemudian perintah untuk menghilangkannya dilaksanakan oleh pikiran kita sendiri.

Selesai masalah? Tunggu dulu. Itu yang terjadi dalam pikiran orang dewasa. Seseorang yang telah dewasa, pada umumnya telah memiliki cukup memori, nilai-nilai, dan cukup data dalam pikirannya, sehingga sebagai orang dewasa, kita sanggup menganalisa untuk berhenti melakukan sesuatu ketika kita memperoleh larangan, atau meneruskannya, karena ada alasan sadar maupun bawah sadar dalam tindakan kita.



Pertanyaannya, bagaimana sebuah larangan bekerja dalam pikiran seorang anak kecil? Memori, nilai-nilai, dan data itu terkadang belum cukup didalam pikiran seorang anak, karena kehidupan yang dia jalani masih baru dan masih harus banyak belajar mengenai banyak hal. Yang terjadi kemudian adalah anak tersebut justru mengeksplorasi hal yang menjadi inti larangannya. Ketika anak tersebut mengeksplorasi, berarti ia mulai fokus di hal yang dilarang tersebut, yang membuat pikirannya terkadang kemudian justru menikmati hal tersebut. Jadi, mungkin niat kita memang melarang anak kita untuk melakukan sesuatu, demi kepentingannya sendiri, namun secara tidak langsung, yang kita lakukan adalah memberikannya sebuah pemikiran baru untuk justru melakukan apa yang kita larang tersebut.



Begitu banyak model kalimat larangan yang membuat seorang anak justru akan melakukan sebaliknya daripada yang kita larang, dan ini cukup membuat kita sebagai orang tua bingung dan bertanya-tanya, apakah dengan demikian, berarti kita tidak boleh memberikan larangan terhadap anak kita?



Solusi

Pertanyaannya bukan, apakah kita tidak boleh memberikan larangan pada anak kita? Tetapi, bagaimanakah caranya supaya kita mampu mengarahkan anak kita untuk melakukan apa yang sebaiknya ia lakukan?



Larangan pada dasarnya berawal dari itikad baik orang tua, yang menurut paradigma dan pikirannya, seorang anak akan merasakan hal yang tidak menyenangkan atau justru hal yang tidak menyenangkan itu akan menimpa pada orang tua anak tersebut bila anak tidak dilarang melakukan sesuatu.



Tetapi justru disitulah masalah muncul, kata-kata larangan yang digunakan seringkali memancing pikiran sang anak untuk sekali lagi, mengeksplorasi hal yang dilarang tersebut. Kalau kita mau mencoba untuk “berempati” pada posisi sang anak, kita akan mendapati bahwa ia sedang mencoba untuk mencermati hal-hal yang buat dia merupakan sesuatu yang baru.


Butuh contoh? Misalnya seorang anak, yang kira-kira berumur 3 tahun, sedang memukul-mukulkan sendok/garpu pada sebuah kaleng bekas biskuit. Suara yang dihasilkan pastilah sangat berisik sekali, dan sudah tentu akan mengusik ketenangan orang-orang di sekitarnya. Sebagai orang tua yang “baik”, tentu kita akan sesegera mungkin mencoba untuk menghentikan apa yang sedang anak itu lakukan, tentu saja, dengan memberikan kata-kata larangan padanya, “jangan dipukul-pukul, berisik”.



Pertanyaannya, apakah kira-kira anak tersebut akan “rela” begitu saja menghentikan apa yang dia lakukan? Sebagian besar anak justru akan makin “bersikeras” untuk melanjutkan apa yang dia lakukan. Kenapa itu terjadi?



  1. karena perintah larangan tersebut membuatnya justru makin ingin mengeksplorasi apa yang dia sedang lakukan/dilarang tersebut.
  2. karena ia sedang asyik merasakan, mendengar, dan melihat proses yang sedang dilakukannya sendiri (bagi sang anak, bunyi kaleng, sensasi rasa di tangannya, dan pemandangan di depannya merupakan sebuah hal yang baru).



Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai orang tua menghadapi hal ini, tentu saja bereksplorasi boleh, tetapi sang anak juga harus diajari bahwa apa yang dia lakukan bisa mengganggu orang orang di sekitarnya bukan? Yang bisa kita lakukan sebagai orang tua antara lain:



  1. mengubah kata-kata larangan yang akan kita lontarkan dengan kata-kata lain yang bernuansa positif, contohnya seperti:

ü daripada berkata “jangan pukul-pukul”, lebih baik kita katakan “main yang lain ya..”

ü daripada berkata “jangan nakal”, lebih baik kita katakan “jadi anak baik ya..”

ü daripada berkata “jangan naik-naik”, lebih baik kita katakan “tetap di bawah ya..”

ü dan lain sebagainya. Selalu ada kata ganti untuk kalimat larangan kita, kalau kita memang berusaha untuk yang terbaik bagi anak kita.

  1. Lihat apakah yang dilakukan anak tersebut benar-benar mengganggu orang-orang di sekitar kita atau tidak, jika tidak, mungkin tidak ada salahnya kalau kita biarkan ia bereksplorasi dengan hal yang baru dikenalnya tersebut, yang tentu saja akan memperkaya data dan memori di dalam pikirannya. Karena terkadang kita melarang anak hanya karena “menurut” kita, hal tersebut tidak wajar dilakukan, dan bilamana dilakukan, akan mengganggu ketenangan. Ingat, waktu adalah sesuatu yang tidak tergantikan.

  1. Ketika sang anak melakukan sesuatu yang monoton terus menerus, dan lama kelamaan menjadi hal yang mungkin memang cukup mengganggu, ada baiknya kita “turut” bermain bersamanya, sekedar untuk mencari tahu, apa yang menjadi minat eksplorasinya. Sebagai orang tua, kita bisa memberikan nilai-nilai yang juga mungkin ingin kita tanamkan, sembari bermain tersebut. Sang anak akan relatif menerima nilai-nilai yang kita tanamkan yang bisa kita buat sejalan dengan apa yang sedang ia lakukan. Contohnya? Misalnya:

ü Anak sedang memukul-mukul kaleng biskuit, kita bisa mengarahkan menjadi mengenal musik dan ritme, mengajarinya memukul dengan ritme tertentu.

ü Anak sedang main-main dengan air, kita mampu mengarahkannya menjadi mengenal permainan air, kebersihan, dll.

ü Anak sedang bermain-main dengan makanannya, kita sanggup jadikan itu contoh bahwa boleh bermain, tetapi tetap dimakan, karena banyak yang bahkan tidak bisa membeli makanan.

ü Dll. Banyak hikmah yang bisa kita pikirkan dari situ, banyak hal kreatif yang bisa kita gali dari anak-anak di sekitar kita.



Semua itu merupakan kekayaan dalam kehidupan bagi sang anak, yang masa depannya masih terbentang dengan sangat panjang di depan. Tugas kita adalah menjadi pelatih, pembimbing, coach bagi mereka. Tugas kita adalah bukan menentukan kehidupan mereka, tetapi membantu mereka untuk mengenali potensi diri mereka yang sebenarnya.



Tugas kita adalah melepas mereka kelak, menjadi seorang yang mampu hidup diatas kekuatan dan harga diri mereka sendiri. Kita adalah pelatih, kita adalah pembimbing bagi mereka. Fasilitator bagi mereka, untuk berkembang sesuai dengan hati dan pikiran mereka sendiri.



Siapkah kita?




Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. 08561076322

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change

Hypnotherapy untuk Anak-anak




anak-anak merupakan subjek yang sangat baik untuk hypnotherapy


Bagaimana Hypnotherapy dapat berguna bagi anak-anak? Banyak sekali, lebih dari yang dapat kita bayangkan. Hypnotherapy dapat membantu untuk menghilangkan kebiasaan masa kecil yang berlanjut, seperti ngompol, menghisap jempol, dll. Hypnotherapy juga dapat membantu kebiasaan belajar yang baik, meningkatkan konsentrasi dan kemampuan belajar, meningkatkan motivasi, kreativitas, dan penghargaan terhadap diri sendiri. Hypnotherapy juga dapat membantu perasaan sedih atau kehilangan. Yang terpenting, hypnotherapy dapat menghilangkan potensi kerusakan secara psikologis yang mungkin ditimbulkan oleh kesalahpengertian kata-kata dari orang tua atau lingkungan di sekitar anak tersebut.

Sejarah hypnotherapy memiliki segudang pengalaman tentang banyak orang dewasa yang mencari pertolongan untuk mengerti dan menerima pengalaman masa kecil mereka. Suatu hal yang luar biasa bahwa kerusakan dapat tercipta dari kesalahpahaman, tujuan yang baik tetapi ditanggapi secara salah, khususnya dari sumber yang terpercaya, seperti orang-tua atau guru.

Anak anak memiliki personalitas dan karakter yang unik, seperti halnya orang dewasa. Mereka juga memberikan tanggapan terhadap komentar dari figur yang memiliki otoritas atas mereka, dengan cara mereka sendiri. Sebagai contoh, ada orang tua yang mungkin melihat raport anaknya dengan nilai-nilai yang buruk, dan mencoba suatu pendekatan yang kita sebut sebagai ”reverse psychology” (psikologi terbalik) untuk memotivasi anaknya. Orang tua tersebut mungkin akan mengatakan sesuatu seperti ”saya tidak percaya bahwa anak saya bodoh”. Jika anak dari orang tua tersebut memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi, perkataan itu justru memprovokasi mereka untuk mencoba lebih giat lagi; sebaliknya, jika anak tersebut memiliki sifat insecure, maka komentar tersebut akan membuat mereka percaya bahwa mereka benar-benar bodoh, atau lebih buruk lagi, bahwa orang tuanya (ayah atau ibunya) tidak mencintai mereka. Hal ini terjadi di dalam pikiran bawah sadar sang anak, yang dapat aktif dengan segera maupun menunggu waktu yang tepat untuk mulai merusak kehidupannya.

Hypnotherapy dapat membantu seorang anak untuk mengerti apa yang sebenarnya dimaksud, dan mencegah terjadinya kesalahpahaman yang dapat menyebabkan luka emosional yang akan membatasi perkembangan personal atau performanya dalam kehidupan.

Seorang anak sebenarnya merupakan subjek yang sangat baik untuk Hypnotherapy. Diawal setiap program, seorang hypnotherapist harus menyempatkan waktunya untuk berbincang-bincang dengan anak yang sedang menjalani sesi terapi; untuk mengetahui apa yang disukai dan tidak disukainya. Hal ini akan memastikan bayangan terbaik yang akan digunakan, sehingga anak tersebut akan memiliki respon positif terhadap hypnotherapy.

Saat mereka mengembangkan durasi perhatian yang cukup, seorang anak sangat mudah memasuki kondisi hypnosis. Seorang anak menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bermain games dan memasuki dunia fantasi atau pengalaman dalan berpura-pura; yang kemudian mereka masuk secara total kedalamnya. Karena alasan ini, permainan dapat merupakan metode yang sangat baik untuk menerapkan sugesti yang bersifat terapetic. Boneka tangan dan boneka hewan biasanya mampu menarik perhatian seorang anak dan merupakan alat yang sangat bagus untuk menerapkan sugesti terapetic.

Seorang anak mungkin tidak menyadari kekuatan dari visualisasi, walaupun mereka memiliki bakat alami untuk berkhayal dan menggambarkan berbagai hal di pikiran mereka. Mereka merespon dengan sangat baik terhadap kisah-kisah dan dongeng sebelum tidur. Mereka senang membayangkan bahwa mereka merupakan bagian dari cerita yang sedang diceritakan, dan mereka masuk ke dalam kondisi hypnosis dengan mudah.

Hypnotherapy juga dapat memberikan beberapa hal yang positif bagi anak-anak usia remaja. Hypnotherapy dapat secara efektif meningkatkan kemampuan konsentrasi dan belajar. Hypnotherapy juga dapat berguna untuk menghadapi masalah perilaku, seperti kenakalan remaja dan ketergantungan obat. Pada remaja, motivasi merupakan hal yang sangat penting. Adalah suatu hal yang esensial bahwa mereka mengerti dan menginginkan perubahan itu terjadi pada diri mereka sendiri.

Anakku Tidak Mau Curhat Padaku

Tulisan Kirdi Putra Untuk HTII


Anak saya tertutup sekali, sering sekali terlihat kalau dia punya masalah, tetapi hanya dipendamnya di dalam hati. Terkadang saya merasa putus asa, ingin sekali saya menjadi orang tua yang bisa dipercaya untuk dia berbagi cerita.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini kesalahan saya?

Ada berbagai karakter manusia, ada berbagai sifat manusia, ada berbagai jenis perasaan manusia. Coba bayangkan kalau Tuhan menciptakan manusia semuanya sama. Sepertinya dunia yang akan sangat membosankan bukan, dimana semua orang sama, reaksinya sama, jalan pikirannya sama, karakternya sama. Nah, terbentuknya sifat, perasaan, karakter, dan berbagai hal dalam diri manusia ini tercipta sebagai sebuah proses. Proses yang berkelanjutan, proses yang terjadi semenjak kita tercipta di dunia ini.


Maksudnya bagaimana? Misalnya begini, ketika seorang anak dari kecil diberikan kebebasan untuk bercerita, ditunjukkan keindahan berbagi cerita, diajak untuk saling bercerita, tanpa di kritik, di komentari, di hakimi (judment), tentu saja dia akan merasa nyaman dan aman untuk menceritakan apapun. Terlepas dari apapun yang diceritakannya, baik positif atau negatif, dia tahu, bahwa rekan bicaranya (orang tua) akan menghargai ceritanya. Yang perlu diperhatikan, adalah bagaimana caranya menanggapi cerita sang anak. Tahukah bahwa terkadang kita cuma membutuhkan teman yang mau mendengar keluh kesah kita? Begitu halnya dengan anak kita. Mungkin berbagai nilai-nilai yang kita ketahui, belum diketahui oleh sang anak? (lho, coba kita lihat, apa yang sudah kita lalui, dan apa saja yang sudah dilalui oleh anak kita, beda jauh kan?) Tapi ini juga bukan memberikan kita hak untuk berkata dalam hati ”kamu kan anak kecil, tahu apa kamu”, apalagi sampai terucap di mulut kita terhadap dia. Belum lagi berbagai nilai-nilai baru yang (mungkin) saja kita bahkan tidak sempat tahu? Tidak sempat tahu? Iya, apakah kita 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari, selalu bersama anak kita? Nggak kan, kita tidak tahu acara TV dan adegan apa saja yang dia tonton (sinetron, kartun, film, dll), kita tidak tahu apa saja masukan dari lingkungan di sekitarnya (guru, teman, pembantu, dll), jadi, banyak sekali yang kita tidak tahu di sini. Nah, coba bayangkan, kalau anak kita sudah bercerita (apalagi dengan susah payah), kemudian tanggapan kita berbeda jauh dengan yang dia harapkan (apalagi tanggapan kita mengkritik, meng”kuliahi”, atau bahkan menghukumnya), kira-kira menurut logika (sebagai seorang anak), apa sih yang akan dirasakan oleh anak kita itu?


Ada sebuah pertanyaan buat kita semua, siapa sih, yang suka kalau cerita kemudian sudah dikomentari, di hujat, di kritik apalagi kemudian disalah-salahkan? Tentu saja lama kelamaan, terbentuk mekanisme pertahanan diri (di dalam pikiran bawah sadar) si anak tersebut untuk melawan, salah satunya dengan diam (seolah-olah, pikirannya berkata ”lho, kalau saya cerita, pasti deh nanti saya di kritik, di salahkan, di komentari, nggak mau ah”). Kalau ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, maka ini akan menjadi bagian dari kebiasaan si anak tersebut. Jadilah ini bagian dari karakter si anak, pendiam dan menyimpan semuanya di dalam pikiran dan hatinya.


Salah siapa? Menurut saya, bukan salah siapa-siapa. Hampir tidak mungkin orang tua memiliki niat buruk terhadap anaknya, dengan sengaja ingin membuat si anak takut, tidak PD, pemalu, dan lain sebagainya. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa sang orang tua belum mengetahui cara berkomunikasi yang tepat untuk berhadapan dengan anaknya, dengan karakteristik sang anak. Belum. Daripada kita menyesali ”kesalahan” yang pernah kita perbuat, bukankah lebih baik kalau kita mulai memikirkan bagaimana cara untuk memperoleh hasil yang kita inginkan? Untuk mengetahui keinginan, cita-cita, dan potensi dari anak kita itu.. dan ini semua membutuhkan sedikit usaha lebih dari kita (tapi, bukankah itu indahnya tugas sebagai orang tua?). Bukankah sebenarnya kita bisa mengatur reaksi dari anak kita, kalau kita mau mencoba untuk mengubah cara kita berkomunikasi dengan mereka? Jadikan ini sesuatu yang fun, sebuah permainan. Anggap saja, kita sedang berusaha berkomunikasi dengan makhluk yang telah dititipkan Tuhan pada kita, dan memiliki cara berpikir yang (boleh saja) berbeda dengan kita, memiliki reaksi yang (bisa jadi) berbeda dengan kita. Jadi, siapa bilang tugas sebagai orang tua itu mudah? Nggak ada, tapi bukankah itu indahnya akan nilai sebagai orang tua? Menjadi telinga untuk anak kita ketika ia bersedih (walaupun saat itu kita sedang sangat lelah), menahan diri untuk tidak menghakimi dan meng-”kuliahi”nya (walaupun saat itu kita sedang kesal), menjadi tangan yang mendorongnya maju (walaupun terkadang kita harus menahan diri untuk melihatnya jatuh). Indah bukan, karena nilai yang kita tanamkan itulah yang akan menjadi pijakannya seumur hidup kelak, dan dengan itulah kita akan dikenang dalam pikiran dan hatinya. Lihatlah keindahannya...


Bagaimana caranya supaya dia mau lebih terbuka pada saya?


Banyak orang yang berkata ”kamu bisa percaya pada saya”, atau ”kamu boleh bercerita pada saya”, tetapi ada sebuah pertanyaan yang ingin saya tanyakan, bukankah rasa nyaman itu tidak bisa dipaksakan? Seperti halnya dengan rasa cinta, rasa marah, dan berbagai perasaan yang lainnya? Apakah kita bisa memilih rasa aman kita bercerita pada orang lain? Apakah kita bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta? Susah bukan? Kalau begitu, apakah kita bisa dengan mudah membuat anak kita bercerita pada kita hanya dengan kata-kata (apalagi petuah dan perintah)?


Kalau anak kita belum merasa nyaman, percaya, atau aman (utk hari dan pikirannya) untuk bercerita pada kita, mungkin kita bisa mencoba pendekatan lain untuk bisa berkomunikasi dengannya (dua arah). Bukankah komunikasi itu tidak hanya bicara? Banyak cara komunikasi yang sebenarnya kita sudah tahu (surat, sms, gambar, rekaman suara, dll), yang bisa kita manfaatkan. Mungkin kita bisa mengajaknya untuk bertukar cerita dengan menggunakan surat. Bertukar cerita? Ya, cara termudah untuk membuat anak kita mau berbagi cerita dengan kita, adalah dengan kita dulu membagi cerita atau perasaan kita dengannya. Lakukan ini dengan ketulusan, bukan sesuatu yang dilakukan karena keterpaksaan, ceritakan dengan hati kita. Pakai surat (kuno sekali!)? Iya, kita bisa meletakkan surat yang isinya cerita tentang perasaan, kegiatan, dan banyak hal yang kita alami hari itu, yang kita letakkan di tempat yang hanya dia yang bisa membacanya (meja belajar, tempat tidur, komputernya, dll).


Kenapa begitu? Prinsipnya adalah, kalau kita ingin dia terbuka, maka bukalah diri kita terlebih dahulu. Jadilah contoh untuk ditiru, bukan ”Boss” yang memberikan perintah (kita juga tidak akan curhat ke boss kita di kantor, walaupun dia berkata ”mulai saat ini, kalian bisa curhat pada saya ya”, nggak juga kan? Kecuali memang dari dulu kita sudah bersahabat dengan boss kita itu). Juga gunakan berbagai cara yang mungkin bagi anak kita lebih nyaman (surat menyurat, email, bahkah games-games kecil yang kita lakukan, yang bisa membuat mereka merasa nyaman, bahkan fun untuk berbagi. Terakhir, konsistenlah pada apa yang sudah kita mulai..

Selamat bermain...


Anakku Tidak Bisa Dilarang


(Kenapa si kecil terbiasa melawan orang tua ya...)

Aduuh, kenapa ya setiap kata-kata saya, setiap perintah saya, setiap ajakan saya, pasti dilawan atau dibantah...”, termasuk anggota perkumpulan orang tua yang pernah mengucapkan kata-kata yang semodel atau bahkan sama persis seperti itu? Mungkin anda tidak perlu terlalu khawatir, itu cuma sebuah pertanda, pertanda bahwa anda siap bergabung di dunia orang tua (Parent’s World). Saran saya, hadapi dengan tersenyum dahulu.

Sebetulnya, ada pola kenapa seorang anak (terlihat) tidak bisa dilarang ketika ia menginginkan sesuatu. Pola yang sebenarnya juga bagian dari program atau ciptaan kita, yang menjadi lingkungan pembentuk anak kita tersebut. Kok bisa seperti itu ya? Sekali lagi, bisa, karena banyak faktor (faktor sifat, yang mempengaruhi lingkungan, faktor kebiasaan dari kecil, faktor toleransi di keluarga, faktor informasi yang masuk ke pikirannya, dll). Semua faktor-faktor ini dibentuk dan terbentuk di dalam pikiran bawah sadar anak tersebut. Pikiran bawah sadar? Iya, sebuah mekanisme yang seperti kertas putih ketika seorang anak baru saja dilahirkan, dan sedikit-demi sedikit tergambar menjadi peta, sejalan dengan semakin dewasanya anak tersebut. Setiap hal yang sudah diketahui anak itu akan berjalan sesuai dengan arah garis jalanan yang tergambar di peta itu. Contohnya? Bukankah kalau kita pergi dari rumah ke kekantor kita (cenderung) menggunakan jalan yang itu-itu saja bukan? Itu tandanya, rute kita sudah masuk ke pikiran bawah sadar kita (sudah menjadi refleks).

Jadi, kalau sudah pikiran bawah sadar anak saya tertulis ”tidak bisa dilarang” gimana dong? Pertama, yakinlah bahwa tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, jadi, bukan TIDAK bisa dilarang, namun kita BELUM menemukan CARANYA. Ada beberapa faktor yang mungkin harus diubah, yaitu:

  1. Kata-kata yang kita gunakan untuk melarang

Gunakan kata-kata yang bersifat ajakan positif ketika kita ”melarang” anak kita, serta masih diberikan pilihan (yang kita tentukan, tetapi intinya dia masih punya pilihan).

Contoh:

Daripada”Jangan bermain terus, kapan kamu belajarnya”

Gunakan ”Ayo kita belajar, kita bisa bermain lagi kan setelah belajar”

Daripada ”Jangan nakal begitu, ibu marah kalau kamu begitu”

Gunakan ”Kamu kan anak baik, kamu bisa kan begini?”

  1. Cara yang kita gunakan untuk melarang anak kita

Siapapun tidak suka lho di tekan dan diHARUSkan (coba, anda suka kah di tekan dan diHARUSkan? Tidak diberi pilihan sama sekali? Gunakan intonasi suara yang tidak mengintimidasi (menurut anak kita, bukan menurut kita), gunaka bahasa tubuh yang tegas namun bersahabat. Caranya? Komunikasikan dulu, ajak dia diskusi dalam suasana yang (kita dan dia tahu) bersahabat. Ajarkan anak untuk belajar diskusi dan negosiasi semenjak dini, tetapi tetap melihat orang tua sebagai figur pemimpin. Tanyakan pendapat dia ”gimana sih caranya ayah/ibu untuk ajak kamu lakukan ini/itu?”

Mungkin tips sederhana ini bisa diterapkan, walaupun memang masalah diseputar anak kita cukup kompleks, karena juga terkait dengan tipe dan karakter anak, cara berpikir anak, dan masih banyak lainnya. Untuk saat ini, selamat bertualang di dunia orang tua...

Anakku Mogok Sekolah

Tulisan Kirdi Putra

Anak saya tidak mau sekolah. Kalau saya bertanya apa yang terjadi, jawabannya selalu saja ”gak mau aja...”. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan, karena pendidikan kan penting bagi masa depannya.

Apakah penyebab ia mogok sekolah?


Menghadapi anak mogok sekolah? Memang bukan sebuah perkara yang menyenangkan, tetapi sarat dengan banyak pelajaran baru.

Penyebab seorang anak mogok sekolah? Banyak hal yang dapat menyebabkan seorang anak mogok sekolah, dari suasana belajar yang menurut dia tidak menyenangkan, guru yang galak dan otoriter, teman-teman yang banyak memberikan tekanan, persaingan dalam kelas, dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa menyebabkan seorang anak melakukan ”aksi” mogok sekolah. Biasanya hal-hal tersebut dapat menyebabkan trauma di dalam pikiran seorang anak.

Terkadang mencoba menggali penyebab kenapa seorang anak tidak mau bersekolah dapat menjadi sebuah kegiatan yang ”sangat” melelahkan. Apalagi bila anak kita termasuk salah seorang anak yang kurang ekspresif (yang ekspresif aja sudah cukup menantang, apalagi anak kita termasuk yang kurang ekspresif...).

Salah satu penyebab lain dari ketidakmauan anak kita untuk bersekolah adalah cara atau pelajaran yang menurutnya tidak nyaman. Ini menuntut kedewasaan kita sebagai orang tua sekaligus pendidik. Namanya juga anak kecil, ketika ia merasa tidak nyaman, maka reaksi yang ditampakkannya biasanya spontan, yang terkadang membuat kita jadi bingung.

”cobalah berpikir layaknya anak seusia anak kita,

maka kita mampu berkomunikasi dengan anak kita dengan lebih baik...”

Nah, memaksa seorang anak untuk menceritakan mengapa ia tidak mau sekolah kira-kira sama menantangnya dengan membuatnya masuk sekolah lagi. Jadi, bila anak kita belum mau cerita mengapa ia menolak untuk masuk sekolah, biarkan dahulu keadaan ini. Sambil kita mencari cara untuk membuat ia bercerita, atau bahkan lebih advance lagi, mencari hal yang membuat dia mau kembali ke sekolah. Bukankah komunikasi dengan orang lain bisa verbal dan non verbal?

Maksudnya gimana?

Begini, terkadang seorang anak mungkin tidak nyaman atau terbiasa untuk bercerita langsung dengan orang tuanya (mungkin lebih nyaman dengan teman-teman sebayanya). Mengapa? Wah, lebih panjang lagi tuh (mungkin karena teman-teman tidak menggurui, tidak menghakimi, atau telinga teman-temannya lebih ”banyak” dan ”lebar” dibandingkan kita?

Kemampuan mendengar kita terkadang kan perlu dipertanyakan begitu yang kita hadapi adalah anak kita, bukan begitu?).

Nah, jika anak kita belum mau bercerita pada kita secara langsung, solusinya? Saatnya kita BE CREATIVE... komunikasi (sekali lagi) bukan Cuma kata-kata (verbal), tapi bisa juga non verbal (bisa pakai SMS, pakai tulisan, pakai file di komputer, pakai rekaman, email, dll), yang bisa dimengerti oleh anak kita. Mungkin dengan cara yang begitu, sesuatu yang baru, anak kita bisa lebih terbuka, siapa tahu kan? Sudah dicoba?

Bagaimana caranya membuatnya mau bersekolah kembali?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mungkin ada baiknya kita mulai berpikir, bahwa orang-tua adalah pemimpin, guru, dan teman bagi anak kita. Mungkin ini salah satu saat yang tepat bagi kita untuk sementara memposisikan diri kita sebagai teman. Saat ini, anak kita membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dia, memahami dia, dan merangkul dia, bukan seseorang yang dengan otoritas penuh (sebagai bos, bahkan bukan sebagai seorang pemimpin) memberikan perintah, memberikan sanksi, memberikan bujukan, bukan...

Cara paling sederhana membuat anak kita mau bersekolah kembali adalah memahami apa dan mengapa dia berpikir seperti itu. Caranya? Dengan menjadi temannya, berkomunikasi dengannya, dari hati, bukan hanya pemikiran bahwa kalau dia tidak sekolah, maka masa depannya PASTI hancur. Bukan.

Kok begitu?

Kalau kita sudah punya kerangka berpikir masa depan yang HANYA tergantung pada apa yang KITA pikir benar (dalam hal ini, sekolah = sukses, tidak sekolah = gagal, hancur, gak jelas), maka kita ”tidak” akan benar-benar berkomunikasi dari hati kita pada anak kita.

Mengapa?

Paling gampang contohnya, memberikan solusi dan nasehat buat orang lain, apalagi tidak punya hubungan emosi dengan kita, lebih mudah daripada orang yang dekat dan punya hubungan emosional dengan kita (berlaku juga buat saya lho...). Karena dengan orang lain, tidak ada paksaan atau tekanan dari diri kita sendiri untuk melihatnya berhasil, bukan masalah tidak ingin melihat orang lain sukses, berhasil, atau bahagia, bukan, tetapi lebih kepada tidak adanya beban mental. Coba yang kita hadapi keluarga kita sendiri (dalam hal ini, anak kita sendiri), waduh, ada berjuta-juta tekanan di dalam diri kita, yang (sangat) menginginkan untuk anak kita HARUS berhasil. Jadi, yang terasa bagi kita adalah adanya tekanan dari luar (anak kita) dan dari dalam (diri kita).

”seorang teman memberikan telinganya untuk mendengar,

seorang teman memberikan bahunya untuk menangis,

seorang teman memberikan tangannya untuk bersandar,

seorang teman memberikan semuanya tanpa prasangka,

seorang teman menerima kita apa adanya...”

Nah, untuk memahami anak kita, coba lihat dan anggap dia sebagai seorang teman. Apa sih yang dibutuhkan seorang teman ketika sedang susah? Sedang ngambek? Sedang tidak mau melakukan sesuatu? Coba kita lihat dari sudut pandang itu.

Bisa langsung disuruh, kan kita orang tuanya?

Bisa? Bisa, tapi mungkin tidak akan bertahan lama, dan bahkan akan menciptakan resistansi dari si anak lebih besar lagi. Seberapa lama kita mau ”kuat-kuatan” atau ”keras-kerasan” dengan anak kita sendiri? Pilihannya adalah, kita dan anak kita sama-sama tertekan, sakit hati, dan justru akan memperjauh jarak hati kita dengan buah hati kita itu. Bukan ini yang kita inginkan kan?

Begitu kita sudah menjadi temannya, maka lebih mudah buat kita untuk mengerti dan saling mempengaruhi.

Bukan sesuatu yang tidak layak dicoba kan?