Hasil Polling Bulan Maret 2008


Hasil Polling Edisi Bulan Maret ” Anda Tahu Kirdi Putra dari" : Suara terbanyak menyatakan mengetahui Mas Kirdi dari Radio sebesar 77 %, disusul Teman 12 % dan Internet 11 %. Terima kasih atas partisipasinya. Dan tahun ini anda bisa menjumpai Mas Kirdi di tv kesayangan anda. Tunggu kabar selanjutnya.

Brainwash, Apa itu Cuci Otak sebenarnya?

Artikel By Kirdi Putra


Saya banyak mendengar dan melihat berita, mengenai teroris, yang sanggup melakukan pengeboman bunuh diri. Katanya, orang bisa melakukan hal seperti itu karena sebelumnya di cuci otaknya (brainwash) terlebih dahulu.


Apakah ada cuci otak itu? Sebenarnya apa sih cuci otak itu?


Cuci otak? Kedengerannya cukup seram ya? Sebetulnya, yang disebut sebagai cuci otak itu ada nggak sih? Itu sekedar mitos atau benar-benar sebuah kenyataan?


Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, sebaiknya kita mendefinisikan terlebih dahulu, apa itu yang disebut sebagai cuci otak (brainwash).


Brainwash atau lebih dikenal sebagai cuci otak adalah sebuah proses yang sudah dikenal semenjak lama, bahkan sebelum perang dunia ke II. Teknologi ini banyak digunakan saat itu oleh tentara Jerman. Untuk apa? Untuk membangun semangat para prajurit dari semenjak masih remaja, untuk membentuk mental prajurit yang tahan banting, loyal, dan sejiwa dengan haluan partai NAZI saat itu. Teknik yang digunakan merupakan sebuah metode yang saat itu dikembangkan secara ilmiah oleh para pakar psikologi dan pikiran manusia, dimana para pakar jerman saat itu juga melakukan berbagai percobaan terhadap pikiran manusia (semasa holocaust di jerman).


Semua metode yang digunakan untuk melakukan brainwash saat itu, biasanya menggunakan waktu yang cukup panjang, untuk menanamkan sebuah program atau ide tertentu dalam pikiran seseorang. Waktu yang cukup panjang merupakan sebuah proses supaya program baru yang ditanamkan tersebut masuk ke pikiran bawah sadar seseorang.


Tujuan utama brainwash saat itu adalah lebih cenderung untuk membangun mental dan kesetiaan para prajurit Jerman.


Metode utama yang digunakan adalah dengan memasukkan informasi/dogma2 secara audio dan visual secara waktu berkala dan panjang, dan bersifat terfokus.


Nah, bagaimana brainwash itu dilakukan? Sekali lagi, sebuah informasi yang ditekankan dan dimasukkan secara terfokus, dengan akses audio maupun visual, dan dilakukan secara terus menerus, mampu menggiring persepsi dan pola pikir maupun perasaan seseorang sedikit demi sedikit. Inilah yang kita sebut sebagai memasukkan nilai di bawah sadar seseorang.


Ketika sebuah nilai telah tertanam cukup kuat di dalam bawah sadar seseorang, maka nilai itu lama kelamaan semakin kuat, berakar, dan permanent. Inilah yang kemudian disebut sebagai hasil dari brainwash itu, dan merupakan tujuan utama dilakukan hal tersebut.


Jadi, teknologi ini berbahaya sekali? Mengerikan sekali efek dari brainwash ini, apakah semua orang bisa di brainwash?


Semua teknologi berpotensi menjadi sesuatu yang berbahaya (nuklir, dinamit, senjata, dll), sedangkan efek dari brainwash tidak selamanya mengerikan. Mengerikan jika (sekali lagi) teknologi dan tujuan brainwash ini disalah gunakan (contoh: utk kegiatan terorisme). Yang menarik adalah, apakah semua orang bisa di brainwash? Jawabannya, BISA... kalau nilai dasar individu yang di brainwash, tidak bertentangan dengan nilai yang dimasukkan dengan metode brainwash ini.


Maksudnya gimana?


Misalnya, saya memiliki nilai dasar atau sistem belief tentang perjuangan. Saya merupakan seseorang yang menganut bahwa saya dapat memberikan lebih banyak untuk bangsa dan negara maupun agama ketika saya hidup. Saya adalah individu yang lebih mengedepankan perjuangan dengan suara dan pikiran saya. Saya tidak menganut faham bahwa dengan bunuh diri, saya bisa dikenang dan berbuat banyak demi bangsa, negara, dan agama. Saya menganggap bahwa kehidupan ini indah, dan saya punya banyak orang yang saya cintai di sekeliling saya. Ini semua yang disebut sebagai nilai dasar dan sistem belief.


Misalnya ada sebuah nilai baru yang mau dimasukkan ke dalam pikiran saya, sebuah nilai tentang membela bangsa, negara, dan agama dengan meledakkan diri, di tengah-tengah orang-orang yang tidak secara langsung bersalah pada saya ataupun kepentingan yang saya bawa, dan teknik yang digunakan adalah metode brainwash.


Apa yang terjadi?


Yang terjadi adalah terjadi ”pertarungan” didalam pikiran saya. Dimana nilai dasar yang telah lebih dahulu ada, berhadapan dengan nilai dan sistem belief yang baru, yang dicoba ditanamkan pada pikiran saya.


Siapa yang menang?


Nilai dasar yang sudah ada, ketika telah terbentuk selama bertahun tahun, merupakan sebuah sistem yang sangat kuat. Ketika nilai baru mencoba menginfiltrasi pikiran saya, maka perlawanan yang diberikan oleh sistem nilai lama sangatlah kuat. Tentu nilai barr bisa saja (seolah-olah) menguasai pikiran saya di permukaan, menjadi nilai dan sistem belief baru. Tetapi, ketika program yang berusaha di tanamkan tersebut hendak di jalankan (misalkan. Untuk meledakkan diri di keramaian), maka program itu pasti terganggu dengan nilai dan sistem belief lama yang ada.


Lalu?


Program baru tersebut gagal untuk bekerja! Sistem nilai yang sudah ada sebelumnya di pikiran bawah sadar kita lebih kuat daripada sistem nilai yang baru, yang secara ”instant” diprogram ke dalam pikiran saya.


Jadi, bagaimana cara supaya program itu bekerja seperti yang diinginkan?


Tentu membutuhkan seseorang yang memang memiliki nilai dasar yang tidak bertentangan sebelumnya.


Mengapa?


Karena pada dasarnya brainwash ”hanya” mempertajam nilai yang telah ada sebelumnya, serta membangun keberanian dan kekuatan untuk melakukan sebuah aksi atau tindakan atas ”nilai” atau ”kepercayaan” yang telah ada sebelumnya.


Satu hal yang pasti, bahwa ini merupakan sebuah metode yang berlandaskan sebuah dasar ilmiah, dan mampu membawa manfaat bagi banyak orang, ketika digunakan untuk sebuah keperluan yang memang positif, dan sesuai dengan nilai dari individu2 yang membutuhkan bantuan dari metode ini.


Mernarik bukan, ternyata keuntungan dari brainwash juga banyak (membangkitkan semangat, PD, keberanian, dll sampai untuk membentuk sebuah budaya perusahaan yang positif, kondusif, dan produktif). Nah, mau tahu lebih lanjut mengenai brainwash?


Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. 08561076322

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change

Artikel: SOLUSI

By KIRDI PUTRA

Pernahkah kita mengalami sebuah hari tanpa masalah?

Pernahkah kita mengetahui seseorang di dunia yang tidak pernah mengalami kesulitan?

Jawabannya sederhana... jarang sekali.. hampir tidak pernah bukan...

Misalnya:

Suatu hari, ada sebuah meeting/rapat di kantor anda, dan kemudian seseorang rekan kerja di kantor mempresentasikan sesuatu, atau mengemukakan ide baru tentang bagaimana cara untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.

Biasanya, ada seseorang dalam ruangan meeting/rapat itu yang kemudian berkata ”begini, masalahnya dari ide/program itu adalah ...............”

Kita seringkali diajari, disarankan, dinasehati, dan belajar dari berbagai macam training dan buku, bahwa fokuslah pada solusi, bukan pada masalahnya...

Tapi... seringkali justru apa yang kita katakan, sebuah pola yang masih berfokus pada masalah yang ada... salah? Tidak, tetapi pernah menderngar kata2 seperti ini:

Kalau kita fokus pada masalah, kita makin mendapatkan masalah,

Kalau kita fokus pada solusi, maka solusi yang makin mendekat pada kita...

Nah, caranya fokus pada solusi gimana ya?


  1. Menghadapi solusi (daripada menghadapi masalah), yaitu dimulai dengan kata-kata kita, baik ke diri sendiri maupun ke orang lain, misalnya:

Daripada “begini, masalahnya adalah ..........”

Menjadi “begini, jadi solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi .............?”

Daripada “permasalahan yang kita hadapi adalah...............”

Menjadi “kita bisa berpikir, apa solusi untuk ......................?”

Daripada ”masih banyak masalah yang harus kita selesaikan”

Menjadi ”apa saja solusi yang bisa kita hasilkan?”

2. Mulai berkata ”setiap masalah PASTI ada SOLUSInya, kalau tidak ada, berarti saya BELUM menemukan/berpikir cukup”

  1. Mulai mengerjakan sesuatu dengan CARA yang berbeda. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda kalau kita mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama bukan? Kalau cara yang sebelumnya gagal/belum berhasil, coba dengan pendekatan yang berbeda (pola pikir dan perasaan yang berbeda).

Semua yang kita lakukan, merupakan sebuah pola yang berbasis pada solusi...

Cara paling mudah menemukan solusi?

Cari seseorang untuk model yang sesuai yang sekiranya punya kecenderungan masalah yang sama, sehingga kita mampu berpikir selain dengan cara berpikir kita selama ini. Model ini boleh orang-orang yang dekat di sekitar kita, maupun tokoh yang telah dikenal oleh masyarakat luas. Dengan menjadikannya model untuk diri kita, yang pasti, kita lebih mudah menuju pada tujuan yang kita inginkan, karena kita memiliki seorang model sebagai panduan.

Mengapa demikian?

Seringkali solusi yang telah dipikirkan seseorang lain, menjadi inspirasi kita, bahwa ”sudah pernah ada orang yang mencapai solusi untuk masalah yang pernah dialaminya”, kita membutuhkan model untuk mencapai sebuah titik dalam kehidupan lebih cepat, setelahnya? Kitalah yang diharapkan menjadi model, menjadi inspirasi, untuk orang-orang sesudah kita.

Jadi, mulai berpikir dengan ”Solution Oriented” hari ini?


Kirdi Putra, CHI, CHt.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. 08561076322

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change

Artikel Ikhlas

By Kirdi Putra

Iklas? Kata-kata yang seringkali harus kita ucapkan manakala kita mengalami suatu hal yang tidak menyenangkan. Kok gitu? Lho, pasti dong, kalau hal yang menyenangkan atau membuat kita bahagia, sudah pasti kita iklas, banget lagi... Nah, kalo yang tidak menyenangkan, baik berupa masalah, musibah, atau kesulitan, ini nih, tantangannya... bisa kah kita tetap iklas menerimanya. Iklas yang kita maksud disini adalah iklas yang dari hati kita, bukan hanya di mulut.

Maksudnya iklas di mulut gimana?

Begini, ada dua jenis iklas, yaitu kata-kata iklas (motivational word) dan perasaan iklas (internal release). Kedua-duanya seringkali kita alami dalam keseharian kita. Kekuatan kita untuk mengiklaskan berawal dari kata-kata iklas, yang kemudian mampu meresap ke dalam diri kita (internal release) dan membangun perasaan untuk lepas dan menerima, serta mampu menjadi pijakan kita mencari solusi ke depan. Inilah yang kita sebut sebagai tujuan dari sebuah proses mengiklaskan.

Coba kita ingat kembali, ketika kita mengalami sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan bagi kita, sebuah masalah, musibah, atau kesulitan.

Apakah kita mampu saat itu juga menerima apa yang sedang atau telah terjadi pada kita? Apakah kita seringkali tidak terbelenggu di dalam akibat dari peristiwa itu?

Apakah kita serta merta sanggup kembali ke ”mood” atau keadaan hati sebelum peristiwa itu terjadi?

Jawaban yang muncul, seringkali sama, ”tentu saja susah”. Nah, kalau sudah begini, kalau sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan telah terjadi, apalagi membawa dampak yang juga tidak menyenangkan di kemudian hari (baik dampak finansial, relationship, kesehatan, dll), maka yang biasanya muncul adalah perasaan-perasaan marah, sedih, bersalah, dan justru menambah masalah, karenan biasanya juga, kita semakin panik dan stress.

Sebenarnya, bagaimana untuk mengatasi perasaan-perasaan yang muncul tersebut, itu merupakan pertanyaan yang terpenting.

Mengapa?

Kita semua sebenarnya sudah tahu, bahwa yang namanya masalah atau kesulitan, sebenarnya ada solusi yang terbentang di depan. Pasti ada? Ya, kalau kita tidak menemukannya sekarang, itu hanya berarti kita BELUM menemukannya. Nah, selama proses mencari solusi, atau pemecahaan masalah itulah seringkali kita kemudian semakin terbebani dengan segala perasaan sedih, marah, bersalah, dll. Segala beban perasaan inilah yang membuat diri kita semakin terpuruk (secara emosi, bahkan seringkali berefek ke fisik kita).

Untuk mengatasi berbagai macam emosi pasca peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut, ada satu hal yang bisa kita lakukan... IKLAS...

Mudah?

Sama sekali TIDAK untuk beberapa orang. Padahal, sekali lagi, kita tahu bahwa:

  1. kita tidak dapat kembali ke masa lalu (dan mengubah kejadian yang telah terjadi)
  2. kehidupan terus berjalan, tidak menunggu apakah kita mau bangkit atau tidak
  3. selalu ada solusi (100% dijamin), dengan berbagai macam cara

Jadi, langkah2 yang bisa kita lakukan apa ya?

Yang pasti, pilihan untuk mau mengiklaskan atau tidak, adalah pilihan kita sendiri, dan tidak ada yang bisa mengubah itu.

Sebelumnya saya mau cerita dulu, apa sebenarnya yang terjadi pada diri kita, kalau kita memilih untuk tetapi ”menahan” diri untuk tidak iklas. Maksud saya disini adalah ”menahan” secara bawah sadar, tanpa kita sadari, karena kalau ditanya, pasti sebagian besar dari kita akan berkata ”maunya sih iklas, tapi rasanya kok susah banget ya”.

Menahan keiklasan, sehingga berbagai perasaan marah, sedih, dll itu justru akan mengakibatkan:

Gangguan dalam sistem kimia dan listrik di susunan syaraf pusat, yang mampu mengakibatkan segala macam gangguan secara fisik. Gangguan fisik seperti apa? Mulai dari maag, gejala asma, sakit perut, migrain, batuk, dll. Kok bisa seperti itu? Pikiran dan fisik kita merupakan sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika di pikiran kita terbebani dengan berbagai macam emosi yang tidak menyenangkan, terjadi pula kekacauan dalam komposisi kimia di otak kita, yang juga menyebabkan aliran listrik di otak kita mengalami gangguan. Akibatnya? Semua fungsi organ dan metabolisme, yang pasti terhubung dengan jaringan syaraf di tubuh kita ikut terganggu. Seringkali gangguan itu terjadi pada organ-organ yang memang sedang dalam keadaan lemah, terjadi pada sistem imun (kekebalan tubuh) kita, dan banyak lagi yang lainnya.

Gangguan dalam kita memperoleh solusi yang kita butuhkan. Karena pikiran kita sudah penuh (occupied) dengan masalah dan kesulitan yang kita pikirkan terus menerus, maka justru yang terjadi adalah kita menjadi semakin tidak produktif. Jika kita menjadi tidak produktif karena ketidakmampuan kita mencari pemecahan masalah, maka solusi yang seharusnya mampu muncul (baik karena hasil pemikiran dari pikiran kita secara sadar, maupun hasil dari pikiran bawah sadar), justru terasa berhenti. Dan terjadi sebuah siklus yang membawa kita pada jurang keterpurukan dan anti pembelajaran, siklus penyesalan dan perasaan bersalah. Inilah yang kita sebut sebagai fokus pada masalah yang terjadi, bukan pada solusinya (walaupun kita secara sadar INGIN lepas dari masalah).

Gangguan untuk kita mampu ”MENARIK” berbagai hal yang menjadi TUJUAN dan IMPIAN kita. Maksudnya? Sebenarnya, apapun yang kita inginkan, pikirkan, dan bayangkan dengan jelas, pasti menjadi kenyataan. Pasti? Ya, 100% pasti. Tapi mengapa seringkali kita mengalami kesulitan? Padahal kita tidak membayangkan kesulitan-kesulitan ini, dan mengapa banyak sekali orang yang tidak memperoleh apa yang mereka inginkan? Jawabannya sederhana. Apakah kita akan lulus sekolah, kalau kita tidak BELAJAR dan tidak LULUS ujian dari sekolah? Jawabannya jelas, TIDAK. Maka, coba tanyakan ke diri kita sendiri, kalau kita punya TUJUAN (analogi: Lulus Sekolah), maka dalam perjalanan menuju ke tujuan kita, pasti ada hal-hal yang harus kita pelajari (analogi: pelajaran sekolah). Bedanya dengan sekolah, adalah kita bisa baca dan dapat hikmah pelajaran itu dari buku, sedangkan dalam kehidupan, kita diharuskan ”membaca” dari segala hal yang terjadi pada diri kita. Kita diharapkan membaca hikmah yang ada dari segala hal, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan yang terjadi pada diri kita. Ketika kita memperoleh sesuatu, itu tandanya kita ”Belajar”. Nah, ketika kita berhasil belajar dan mampu untuk menerapkan pelajaran yang kita dapat untuk masalah dan kesulitan kita berikutnya, berarti kita lulus ujian (analogi: Ujian sekolah). Jadi sebenarnya, apapun hal yang terjadi pada diri kita (baik menyenangkan ataupun tidak), adalah konsekwensi dari TUJUAN atau IMPIAN yang pernah kita inginkan, pikirkan, dan bayangkan, sebelumnya. Jadi, secara tidak sadar, kitalah yang mengundah segala masalah dan kesulitan itu datang. Untuk apa? Supaya kita mampu belajar, untuk sedikit demi sedikit mencapai apa yang kita Impikan. Nah kalau kita memilih untuk ngedumel, complain, terus terperangkap dalam kesedihan, dan terus berkutat dengan masalah (bukan solusi), berarti kita memilih untuk berjalan di tempat, dan tidak maju sedikitpun. Jadi? Ya, tujuan yang kita inginkan tidak akan semakin dekat, itu pasti.

Nah, sudah tahu efek dari memilih untuk tidak iklas? Sekarang, apa efek dari kalau kita iklas? Ya gampang, semua yang sudah di jelaskan di atas, dibalik saja. Tubuh kita tetap segar dan sehat, solusi juga lebih mudah muncul (kreatif), dan sedikit demi sedikit TUJUAN dan IMPIAN kita juga pasti semakin dekat.

Lalu bagaimana caranya mengiklaskan suatu kesulitan, masalah, atau musibah?

Mulai dari kata-kata iklas (motivational word), ”Saya IKLASKAN ini semua terjadi”

  1. Mulai pikirkan ”Apa yang saya harus lakukan berikutnya?” (daripada ”kenapa ini semua terjadi pada saya?”)
  2. Mulai sadari ”Apa yang bisa saya pelajari dari peristiwa ini?” (ini memfokuskan diri kita pada solusi dan pelajaran yang kita dapat)
  3. Mulai mengingat kembali, bayangkan kembali, pikirkan kembali secara detail, apa yang menjadi TUJUAN dan IMPIAN kita

Tentu ini bukan sebuah proses yang hanya sekali kita lakukan, tentu saja tidak. Ini adalah proses yang harus kita lakukan secara berulang. Percayalah, bahwa ketika kita mau mengulang-ulang proses ini, maka yang terjadi adalah keiklasan secara bertahap.

Hasilnya?

Kita mampu lepas dari segala perasaan sedih, marah, kecewa, bersalah, dll itu, sekaligus kita mampu mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga untuk kita berjalan dalam kehidupan kita ke depan, dan yang terpenting adalah kita semakin dekat pada TUJUAN dan IMPIAN yang kita inginkan dalam hidup kita.

Ayo, Iklas bersama-sama...

Kirdi Putra, CHI, CHt.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. +62 21 739 7916

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change


CD Parenting Kirdi Putra On Radio

Tidak Sempat Mendengarkan Siaran Mas Kirdi Putra di Radio. Beli aja CD-nya. BARU ..... CD Kirdi Putra On Radio - Edisi Radio Woman, Tema Parenting (Stok Terbatas hanya 50 CD) Hub 08561076322

Hasil Polling Bulan Februari 2008

Hasil Polling Bulan Februari 2008

Anda Phobia Apa?

  1. Kecoa
  2. Ketinggian
  3. Keramaian

Dari 11 responden yang masuk, hasilnya adalah Phobia Kecoa 46 %, Phobia Ketinggian 36 %, dan Phobia Keramaian 18 %

Artikel Mengubah Kebiasaan dengan Self Hypnosis

By Kirdi Putra

Hypnosis atau hipnotis merupakan sebuah alat (tools) yang dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk meningkatkan kepercayaan diri, membangkitkan motivasi dari dalam, dan termasuk mengubah kebiasaan seseorang.

Ketika kita ingin mengubah sebuah kebiasaan yang kita miliki (misalnya: merokok, gigit jari, emosi, dll), maka kita bisa datang ke seorang professional therapist (hypnotherapist) atau melakukan sebuah program diri, yang kita sebut sebagai Self Hypnosis.

Pada dasarnya, Self Hypnosis merupakan sebuah proses mengatur ulang pola di pikiran dan perasaan kita , dengan menggunakan akses/kunci ke pikiran bawah sadar kita. Self Hypnosis dapat digunakan untuk mengakses potensi terpendam dalam diri manusia, dimana “kunci” yang digunakan adalah dengan pemprograman pikiran melalui bahasa symbol dan non verbal.

Self Hypnosis mampu berpengaruh secara langsung, baik dalam jangka waktu cepat maupun lambat terhadap pikiran dan tubuh kita. Ketika kita melakukan self hypnosis, diperlukan kondisi (state) fisik dan mental kita untuk relaks. Kondisi ini diperlukan untuk mempercepat proses pembentukan hasil yang diinginkan secara bawah sadar (subconscious), tanpa adanya mental block yang dapat terbentuk dari berbagai hal. Untuk memudahkan kita ke kondisi tersebut, diperlukan

  • Kondisi lingkungan yang kondusif (tenang, nyaman, aman)
  • Lingkungan (manusia) yang supportif (utk mendukung selama proses, dan sesudah proses berlangsung)
  • Kemauan dari diri kita utk mencapai hasil yang diinginkannya

Dalam kondisi self hypnosis ini, pikiran kita berada pada kondisi yang memungkinkan diri kita sendiri lebih cepat dan lebih mudah menanamkan sebuah nilai baru di dalam pikiran kita sendiri, dalam hal ini adalah nilai-nilai untuk menghentikan kebiasaan merokok yang kita miliki.

Konsep yang digunakan untuk menyembuhkan korban trauma (trauma healing) adalah dengan langkah-langkah (step) seperti:

  1. Building Comfort

Merupakan proses untuk membangun kepercayaan diri untuk mengubah kebiasaan yang kita inginkan dan sekaligus membentuk sebuah kebiasaan baru lainnya, dimana diperlukan kesukarelaan diri untuk bersedia melalui semua prosesnya untuk hasil yang optimal.

2. Safe Place

Adalah metode menempatkan diri dalam sebuah kondisi dengan “kenyamanan” dari peristiwa luar yang terjadi, yang membuat bawah sadar merasa aman dan nyaman. Step ini diterapkan untuk:

    • mampu “menyamankan” diri selama proses berlangsung
    • mampu menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sehingga akan mengecilkan effort yang dibutuhkan (meringankan perasaan)
    • mampu mempersiapkan diri secara bawah sadar untuk membangun nilai-nilai baru di atas nilai-nilai kebiasaan lama yang ada saat ini.

  1. Reprogramming

Proses menanamkan sebuah realitas baru dalam pikiran dan perasaan, berdasarkan nilai-nilai yang mendasari terbentuknya sebuah kebiasaan. Misal: seseorang merokok (kebiasaan) karena membutuhkan rasa tenang (nilai). Setelah kita mengenal nilai-nilai yang mendasari kebiasaan kita ini, maka proses yang dilakukan berikutnya adalah mencari variasi kebiasaan baru yang kita rasa lebih produktif atau lebih baik, untuk menggantikan kebiasaan yang lama, tetapi tetap terkait dengan nilai-nilai yang dibutuhkan. Misal: kebiasaan merokok diganti dengan mengkonsumsi air putih lebih sering, untuk memberikan rasa tenang di dalam hati. Proses ini juga memberikan beberapa nilai tambah bagi diri kita, antara lain:

· mampu lebih cepat menyelesaikan berbagai masalah secara internal

· mampu lebih “kreatif” dalam mencari solusi dari masalah yang ada

  1. Closed and Sealed

Step terakhir, untuk menutup “program” yang ditanamkan. Kebiasaan masa lalu tersebut “hanya” menjadi ingatan, yang saat ini, nilai-nilai dan kebiasaan yang sekarang berubah, sejalan dengan program yang baru saja ditanamkan. Terjadi perubahan persepsi mengenai kebiasaan itu sendiri, dan sepenuhnya selesai mengambil hikmah/ pelajaran dari kebiasaan (yang lalu) tersebut secara positif.


Metode Self Hypnosis ini merupakan metode terapan praktis penggunaan visualisasi dan hypnotherapy untuk memberikan perintah pada tubuh untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Perintah diberikan secara symbolis/metaphor, dimana symbol/metaphor tersebut merupakan akses langsung pada bawah sadar pikiran manusia, yang bertanggung jawab terhadap tubuh fisiknya.

Dari email htii.school@yahoo.com


Salam kenal mas kirdi

Kemaren saya dengar talkshow mas kirdi di radio Ramako, yg salah satunya membahas The Secret. Saya sdh baca dan tonton dvdnya, sangat bagus, sampai seluruh kantor saya suruh tonton vcdnya.

Saya ingin coba menerapkannya cuman gimana ya?

misalnya untuk:

1. Kalau saya ingin keluarga saya rukun dan bahagia, anak-anak tidak nakal dan nurut sama orangtuanya, manteranya gimana?

2. Kalau ingin dapat lotery/undian, manteranya gimana?

Sekian dulu mas, terimakasih atas bantuannya

A di JKT

Jawaban Mas Kirdi Putra

Terima kasih untuk perhatiannya pada saya di Ramako (105.8 FM), semoga bisa membawa sesuatu yang positif buat kita semua. Sehubungan dengan pertanyaan bagaimana cara menciptakan kerukunan dan kebahagiaan di keluarga, juga anak-anak yang tidak nakal dan nurut dengan orang tuanya, benar-benar pertanyaan yang sangat menarik.

Seperti yang telah diketahui, bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, maka sebenarnya alam semesta dan pikiran kita telah mengarahkan diri kita untuk mencapai apa yang kita inginkan tersebut. Yang menentukan tercapainya sebuah keinginan, cita-cita, atau tujuan adalah:

Detail. Seberapa detail kita memikirkan, membayangkan, dan membentuknya dalam pikiran kita. Semakin jelas dan pasti apa yang kita inginkan (tujuan) itu, maka dapat dipastikan apapun yang terjadi dalam hidup kita, suatu saat kita pasti sampai di tujuan yang kita inginkan tersebut. Maksudnya? Misalnya begini, katakanlah kita sedang nyetir mobil (yang sangat canggih). Kita merasa sangat nyaman di dalamnya, tetapi sambil terus mengemudi, kita tidak bisa menentukan tujuan kita. Sambil terus berpikir, mau kemana kita, kita tetap harus memperhatikan jalanan bukan? Supaya tidak masuk lobang, tidak menabrak, tidak nyerempet, dll. Kita terfokus pada hal-hal kecil, sedangkan tujuan yang sebenarnya kita bisa capai malah tidak tercapai (padahal kita punya kendaraan yang memungkinkan kita mencapai tujuan kita kan?).

Membayar. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Maksudnya? Ketika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus mau membayar harganya (if you really want something, then you have to pay for the price). Jadi, ketika kita sudah mengarahkan pikiran kita ke sebuah tujuan, maka kita WAJIB untuk mulai memikirkan pelajaran (hikmah) dari setiap hal yang terjadi pada diri kita (baik itu terasa menyenangkan maupun tidak menyenangkan, tetapi itu sudah DIRANCANG sedemikian rupa, oleh alam semesta dan PIKIRAN kita sendiri, secara bawah sadar, untuk kita mencapai apa yang kita inginkan). Misalnya gimana? Misalnya kita sudah memprogram pada diri kita, bahwa kita adalah orang yang mampu menarik rejeki. Tiba-tiba, ada seorang rekan lama kita yang menghubungi kita dan menawarkan sebuah peluang, katakanlah MLM. Seringkali, banyak orang yang kemudian menolak (baik secara langsung maupun halus). Padahal kalau kita mau meluangkan waktu bertanya pada diri kita sendiri, kenapa rekan lama kita tiba-tiba menawarkan peluang itu kepada kita? Nah, ketika kita meluangkan waktu untuk berpikir, untuk datang memenuhi undangan teman kita itu, untuk berkenalan dengan orang-orang baru, berarti kita mau membayar untuk peluang yang datang ke kita (dengan waktu, tenaga, atau biaya). Setelah itu, sebenarnya kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya dapat/pelajari ya?


Nah, untuk pertanyaan A tadi, menurut saya, kita dapat memulai dengan mendefinisikan secara lebih jelas/detail, seperti apa rukun dan bahagia yang dimaksud (kan rukun dan bahagia untuk tiap orang berbeda-beda). Bayangkan sejelas-jelasnya, sampai kita bisa membayangkannya secara detail dan terinci.

Mantranya?

Setelah kita bayangkan secara detail dan kita bisa merasakan bahwa kerukunan dan kebahagiaan itu sudah terjadi pada kita, katakan pada diri kita sendiri

“Saya bersyukur/berterima kasih atas kerukunan dan kebahagiaan seperti ini”


Kenapa seperti itu mantranya?


Perlu kita ketahui dan ingat, bahwa ketika kita iklas atas suatu hal, berarti kita mensyukuri apa yang kita peroleh. Untuk mengundang kerukunan dan kebahagiaan itu, maka syukuri terlebih dahulu.

Apa yang terjadi setelah itu?

Kita tidak akan luput dari pertengkaran, perbedaan pendapat, perselisihan, dan berbagai hal yang tidak menyenangkan lainnya. Ketika kita mengalami hal ini, tenangkan diri kita, tarik nafas panjang, sehingga kita akan lebih mampu bertanya pada diri kita sendiri, ”Apa hal yang dapat saya peroleh/pelajari dari hal-hal ini?”

Nah, karena mantra yang selalu kita ucapkan tadi (bersyukur), maka kita mampu lebih mudah untuk mendapatkan hikmah dan pelajaran, sehingga, kita mampu untuk mencapai kerukunan dan kebahagiaan yang kita inginkan (sebagai tujuan kita).

Mantra untuk mendapat undian/lotere?

Waduh, memang ada cara untuk menarik peluang dan rejeki, yang ketika kita secara rutin memasukkan pola sukses dan kaya ke dalam pikiran bawah sadar kita. Lebih baik kita menjadikan diri kita MAGNET untuk keberhasilan, keberuntungan, dan kekayaan, dan semuanya ini tetap ada HARGA yang kita harus bayarkan. Apa? Kemauan untuk belajar dari apapun yang terjadi pada kita, karena semua hal terjadi karena sebuah alasan tertentu.

”Everything happen for a reason”

Daripada kita mengharapkan undian atau lotere, yang tentu saja bukan tidak mungkin kita dapat lho.. (ketika kita memang sudah waktunya mampu menarik keberuntungan itu pada diri kita, mungkin-mungkin saja terjadi), dan kita masih dalam mode menunggu (waiting mode), lebih baik kita isi waktu kita dengan hal-hal yang lebih produktif dan berkarya, sambil belajar dari kehidupan. Percayalah, bahwa peluang dan rejeki itu justru datang lebih cepat lagi (tentu tetap dengan ada waktu, biaya,dan tenaga yang kita keluarkan, tetapi jumlahnya tidak memberatkan kita).

Nah, untuk kenakalan anak, sebenarnya seringkali kenakalan merupakan bentuk lain dari kreativitas dan inisiatif. (tentu kenakalan yang dapat di tolerir, bukan yang sudah mengarah pada suatu hal yang destruktif, yang merugikan diri dan orang lain). Bagaimana untuk menghadapi dan memanage kenakalain anak, lebih jelasnya, silahkan melihat beberapa artikel saya tentang anak (Contoh: Anakku Tidak Bisa Dilarang, Anakku Suka Mengumpat, dll).