Susah Ya Jualan

Artikel By Kirdi Putra


Saya baru saja mulai bergabung dengan salah satu Multilevel Marketing (MLM), untuk iseng-iseng di sela-sela pekerjaan saya, kata kawan saya yang mengajak, untuk cari-cari tambahan, mungkin saja bisa berhasil. Tetapi sepanjang selama sebulan saya bergabung ini, terasa bagi saya sulit sekali untuk bisa menjual, bahkan untuk satu produk sekalipun.


Apakah saya tidak berbakat jualan?


Untuk pertanyaan ini, saya akan bertanya kembali, apa sih yang namanya bakat?


Ada yang bilang bahwa tanpa bakat, seseorang akan lebih susah untuk berhasil...


Ada yang berkata, tanpa bakat, akan lebih lama kita berhasil dalam yang kita kerjakan..

Tetapi,

Sudah terlalu banyak saya melihat, betapa banyak orang-orang yang menyia-nyiakan bakatnya sendiri...


Sudah terlalu banyak saya menghadapi orang-orang yang seharusnya dapat menjadi orang yang sangat berguna untuk diri dan lingkungannya, kandas dalam ketidakjelasan..


Jadi, apa yang kita definisikan sebagai bakat?


Banyak orang yang saya kenal, berhasil karena keuletan mereka dalam menghadapi berbagai macam hal, dari kegagalan, tantangan, halangan, sampai pada caci maki dan pandangan meremehkan dari orang-orang di sekelilingnya...


Buktinya? Banyak sekali... coba, pernahkah kita mendengar Thomas A. Edison (pencipta bohlam lampu)? Bagaimana perjuangannya menghadapi orang-orang yang meragukan dan menganggapnya gila?


Pernah mendengar perjuangan Kolonel Sanders (KFC)? Bagaimana ia berjuang di usianya yang sudah cukup tua untuk memasarkan resep keluarganya?


Pernah mendengar perjuangan Bob Sadino (Kem Chick)? Bagaimana ia bertahan hidup dengan berjualan telur kecil-kecilan?


Kesamaan mereka adalah mereka punya komitmen terhadap diri mereka sendiri.. komitmen untuk menjalani semua yang mereka kerjakan sepenuh hati. Jadi, kita bisa memulai dengan menganggap apapun yang kita jalani adalah LAYAK dan BISA menjadikan kita sukses...


Ada yang namanya bisnis sampingan, tetapi tidak ada yang namanya pebisnis paruh waktu...


Maksudnya?


Mereka yang sukses mungkin memulai banyak hal dari sesuatu yang kecil dan mungkin sebagai sampingan, tetapi mereka tidak menganggap diri mereka sebagai pebisnis paruh waktu, mereka menganggap bahwa diri mereka adalah pebisnis sukses. Di waktu luang mereka, di waktu mereka mengerjakan usaha mereka, mereka berjuang dengan sepenuh hati, mereka benar-benar menganggap bahwa suatu hari mereka mampu mencapai suatu tujuan, dan fokus di apa yang mereka sedang lakukan saat itu...


Ketika mereka mengerjakan apa yang mereka telah pilih, walaupun masih berupa pekerjaan paruh waktu, tetapi hati mereka benar-benar mereka letakkan disitu...


Siapkah kita meletakkan hati kita sepenuhnya?


Bagaimana saya bisa berhasil di dunia yang baru buat saya ini?


Sederhana... percaya…


Percaya pada siapa?


Pada diri sendiri… bukan pada orang lain... apapun yang terjadi... apapun...


Bagaimana?? sedangkan selama ini kegagalan yang selalu datang?


Pertanyaan yang bagus, tentu jawabannya juga harus bagus kan?


Sekarang, coba kita bertanya pada diri sendiri, untuk bisa menyelesaikan semua materi pelajaran sekolah, tentu butuh waktu kan? (baik buat kita maupun guru yang memberikan materi). Untuk bisa lulus dari sekolah, kita harus lulus dari ujian kan?


Bukankah sama dengan kehidupan? Untuk bisa (ahli) dalam menjual, tentu butuh waktu untuk belajar dan menerima pelajaran (dari kehidupan, dari Tuhan), dan untuk bisa lulus dan menjadi seorang penjual yang handal, tentu kita harus lulus dari berbagai ujian kan?



Misalnya:

  1. ujian menghadapi penolakan dari orang lain (apalagi dari orang yang dekat dengan kita)
  2. ujian ketika produk kita dibandingkan dengan produk pesaing (kadang2 menyebalkan)
  3. ujian dimana kita sedang dalam mood jelek, tetapi calon pembeli terlihat berminat
  4. ujian saat calon pembeli di hadapan kita selalu komplain & menyebalkan
  5. dan masih banyak ujian ujian lainnya...


nah, untuk bisa mengerti ilmu dalam menghadapi ujian-ujian itu, tentu kita perlu waktu kan? Waktu untuk belajar, dengan bertemu berbagai macam orang, membaca berbagai macam buku, menghadiri berbagai jenis training & seminar... dan percayalah, bahwa suatu saat, saat ujian-ujian yang datang sudah bisa kita hadapi, maka hasil yang kita inginkan PASTI ada di tangan kita...


Sekedar menanamkan kebiasaan baru di pikiran bawah sadar kita, maka kebiasaan baru tersebut akan menjadi bagian dari diri kita yang baru...


See You at the Top...

Kirdi Putra, CHI, CHt.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. 08561076322

For things to change, I have to change

Artikel: Setali Tiga Uang

By True Story

Bude saya selalu mengeluh dengan sifat cucu-nya yang keras kepala dan gak mau diatur. Takutnya Cuma sama ayahnya saja yang notabene adalah mantunya. Jadi, kalau disuruh mandi, minum susu, belajar, tidak nonton TV melulu, dll, harus dengan berbagai iming-iming ”Bilangin ke papa loh...”, biasanya kalau sudah ada kata ”Papa” si cucu langsung nurut dengan penuh rasa tertekan dan terkadang tangisan. Dan kalau papanya sudah datang dan menghampiri, tangisan dan tekanan tadi seketika berubah menjadi senyuman.


Sifat keras lainnya adalah sang anak yang selalu tetap (kekeuh) pendiriannya walaupun dia tahu kalo itu salah. Contohnya adalah saat diajak jalan-jalan, sang anak akan tetap ngeyel/ kekeuh misalnya dia ingin main ke suatu tempat. Pernah suatu kali dia diajak ke PIM 2, sang anak maunya bebas jalan ke mana dia suka dan berhenti dimana ia mau, sementara tujuannya selalu berubah ubah (PIM 1 ke PIM 2, begitu pula sebaliknya, terus menerus). Akhirnya sang anak dan mamanya berantem, dan mamanya mengeluarkan maklumat untuk tidak ngajak ke PIM atau jalan-jalan ke mana-mana lagi.


Karena ini, bude saya suka bilang ”setali 3 uang” dengan kakek dan papanya. Katanya sih, sifat keras kepala dan ngeyelnya itu seperti kakeknya, dan sifat gak nurut dan masa bodo nya nurun dari ayahnya. Kata bude saya, sejak bayi cucunya itu sudah nunjukin kekerasan hatinya. Misalnya ketika usianya 1 – 12 bulan, gak mau sabar banget kalau minta susu. Kalo sudah nangis, wajahnya sampai biru dan susah nafas, walaupun sudah diberi 1001 teknik bujukan.


Apa benar pepatah “setali tiga uang” itu berhubungan dengan sifat anak yang turun dari orang tuanya, bahkan garis vertikal keluarga?


Pertanyaan yang menjadi misteri dari kebanyakan orang tua. Bagaimana caranya sebuah sifat menurun dalam keluarga? Yang kita telah ketahui bersama, bahwa sifat genetic dibawa oleh Gen didalam tiap sel di tubuh kita, yang informasi lengkap dan detail mengenai tubuh fisik kita terkandung dalam rangkai DNA (Deoxiribo Nucleid Acid). Tetapi, bagaimanakah dengan sifat? Apakah sifat terkandung pula dalam factor DNA? Jawabannya, ya, secara tidak langsung.


Maksudnya? Begini, kita tahu bahwa semenjak kita masih di kandungan, janin mampu merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya (berdasarkan penelitian dan pembuktian ilmiah), sehingga apapun yang dirasakan ibu yang mengandungnya, dapat dirasakan oleh janin (perubahan emosi merangsang jenis zat kimia berupa hormon atau enzim di otak, yang juga dialirkan ke seluruh tubuh melalui darah, sehingga turut mempengaruhi emosi janin). Sehingga, keadaan emosi sang ibu, baik bahagia, sedih, stress, dll juga secara langsung pasti mempengaruhi sang janin. Kemudian, setelah proses pembentukan otak dan system indra dasar (penglihatan, pendengaran, dll), maka janin mampu menerima rangsangan getaran dan suara dari lingkungan di sekitar ibu yang mengandungnya. Sehingga, ia seolah olah sudah siap menangkap program apapun yang diberikan oleh lingkungan di sekelilingnya.


Coba bayangkan, apabila sang ayah, atau sang kakek, memiliki sifat dan perilaku yang misalnya, keras kepala. Setiap hari, ibu dan janin berada di dalam lingkungan tersebut. Setiap hari pula, sang janin menerima getaran, suara, dan pengaruh lingkungan yang penuh dengan kekeraskepalaan itu. Belum lagi, perasaan sang ibu yang mengandungnya, yang juga pasti berubah-ubah sejalan dengan apa yang menimpanya (termasuk efek dari kekeras kepalaan suaminya..), yang langsung mempengaruhi janin. Ini baru yang terjadi selama proses kehamilan. Belum lagi lingkungan yang mempengaruhi selama anak berumur balita, walaupun ia mungkin , misalnya, belum mengetahui makna, arti, dan maksud dari kata-kata dan pengaruh (baik yang diucapkan ataupun yang dilakukan) dari orang-orang disekelilingnya, tetapi percayalah, bahwa kemampuan seorang anak menyerap informasi, nilai, dan perasaan, sangatlah luar biasa. Hal inilah yang membentuk pola pola dalam otak anak tersebut dari usia yang sangat dini (yang kita kenal dengan istilah ”Pola Pikir”). Pada waktunya (berbeda untuk tiap anak), maka munculah yang kita sebut sebagai ”sifat keturunan” tersebut.


Apa yang sebenarnya terjadi pada si anak? Kenapa dia bisa keras kepala, nggak nurut, ngeyel, dll?


Mengapa si anak keras kepala dan tidak menurut? Mungkin karena perlakuan yang diterimanya dari hari ke hari.. kehidupan yang penuh dengan larangan, tuntutan, dan ancaman. Satu hal yang perlu diketahui dan diingat sebelumnya, ketika seorang anak terlahir ke dunia ini, dia layaknya seperti kertas putih. Kertas yang masih kosong dan dapat diisi dengan berbagai hal, baik yang positif maupun negatif. Orang tua dan lingkungan hanya bertugas mengarahkan bakat dan potensi anak, serta membantu mengisi kertas putih tersebut dengan berbagai hal yang mendukung bakat dan potensinya.


Orang tua dan lingkungan adalah pendukung, bukan yang menentukan ke mana arah si anak akan berjalan. Orang tua dan lingkungan adalah pelindung, yang memastikan bahwa si anak mampu berdiri tegak dan menentukan jalannya sendiri. Jadi, bila seorang anak hidup dengan berbagai macam tuntutan, ancaman, dan bahkan hukuman, pilihannya mudah.. ia akan menjadi anak yang sangat penurut, tetapi mengalami keterkekangan dalam daya kreatifitasnya.. atau ia akan menjadi anak pemberontak, yang kapanpun dapat meledak dan hanya melakukan apa yang ingin dilakukannya (tanpa melihat baik buruk, benar salahnya).


Pertanyaannya, semenjak kapan dan apa yang sebenarnya terjadi di pikirannya? Ketika seorang anak secara berulang-ulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya (orang tua, teman, media, dll), maka pikiran si anak perlahan lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai, beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan dirinya (self defense mechanism), sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman (seringkali bahkan ini berjalan secara refleks, sehingga si anak sendiri tanpa sadar mengalami perubahan sifat dan perilaku).


Satu hal yang juga perlu diingat, bahwa yang membentuk sifat anak tersebut tidak hanya bentuk komunikasi verbal (ucapan) dari lingkungannya, tetapi juga komunikasi non verbal (bahasa tubuh orang tua, adegan-adegan yang bernuansa negatif di televisi, musik yang didengar, dll), sehingga tidaklah mengherankan ketika seorang anak tiba-tiba memiliki bahasa tubuh yang baru/berbeda, dan itu dapat terjadi dalam waktu cepat (karena kekuatan dari kertas yang masih kosong).


Apa sifat dan kelakuan anak bisa dirubah?


Bisa, sifat dan kelakuan seorang anak bukanlah sesuatu yang mutlak dan tidak dapat diarahkan. Berdasarkan pengalaman dan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Perubahan nilai dalam pikiran bawah sadar seseorang menyebabkan perubahan sifat dan perilaku, dimana faktor-faktor terbesar yang menyebabkan perubahan nilai dan pola pikir seseorang antara lain:


ü Lingkungan

ü Pengalaman


Jadi sebenarnya kalau mau mengubah sifat dan kelakuan si anak, ubah nilai yang ada di bawah sadarnya, dengan cara mengubah saja lingkungan dan pengalaman sehari-harinya.. beres kan.. tetapi yang terjadi rata-rata adalah orang di sekitarnya (orang tua, nenek & kakek, dll) memberikan tuntutan (langsung maupun tak langsung) bagi si anak untuk berubah. Terkadang bukan si anak tidak mau berubah, tetapi karena data ”pengalaman” di kepalanya mungkin masih sedikit atau”nilai” yang dia putuskan untuk diambil berbeda (misal: main Playstation lebih menyenangkan dibandingkan membersihkan kamar). Nah, disinilah peran orang tua dan lingkungannya, dimana pola mengasuh anak dengan sistem tekanan dan ancaman bukan lagi solusi. Kalau mau mengubah kelakuan dan sifat si anak, maka orang-tua sebagai aspek lingkungan yang terdekat, juga bersiap-siap untuk mengadaptasi pola mengasuh dengan teknik yang berbeda (bukan berarti yang lama salah, hanya berbeda).


Ada sebuah kata-kata bijak, yaitu ”kalau kita gagal dengan suatu cara, maka cobalah dengan cara yang lain”, yang kalau saya gabungkan dengan kata-kata dari sebuah lagu Michael Jackson (Man in the Mirror), yaitu ”if you want to change the world, you have to start with a man in the mirror” (artinya. Kalau kamu ingin mengubah dunia, maka mulailah dengan bayangan di dalam cermin). Jadi, kalau cara yang biasa belum berhasil mengubah anak kita, maka mungkin kita harus mulai mencoba cara yang berbeda (sekali lagi, bukan berarti cara yang biasanya salah, Cuma butuh sesuatu yang lain), dan perubahan tersebut tidak bisa dipaksakan pada orang lain (dalam kasus ini, anak kita), tetapi perubahan itu dimulai dari diri kita.


SIAP UNTUK BERUBAH?


Kirdi Putra, CHI, CHt.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. 08561076322

For things to change, I have to change

See, Do, Get


(di sadur dari “See-Do-Get” ditulis oleh “Unknown”)

Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat terpencil dan asing di luar kota. Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa. Karena lapar, mereka terpaksa menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor anjing yang ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya.


Keesokan harinya, terjadi kehebohan. Seorang dari mereka mendengar anjing itu mati, saat itu juga, semua orang menjadi cemas. Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang diare. Seorang dokter dipanggil untuk merawat para penderita keracunan makanan. Sang dokter mulai mencari penyebab dari kematian anjing tersebut.
Ketika hendak dilacak, eh ternyata anjing itu mati karena tertabrak mobil.


Apa yang menarik dari cerita di atas?

Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. We see the world as we are, not as it is. Akar segala sesuatu adalah dari cara kita melihat. Cara kita melihat memengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan memengaruhi apa yang kita dapatkan. Ini disebut sebagai model See-Do-Get.

Perubahan yang mendasar baru terjadi ketika ada sebuah perubahan dari cara melihat. Ada sebuah cerita menarik mengenai sepasang suami-istri yang telah bercerai. Suatu hari, seorang wanita bernama Astri (bukan nama sesungguhnya), datang ke kantor Roy (bukan nama sesungguhnya), mantan suaminya. Saat itu Roy sedang melayani seorang pelanggan. Melihat Astri menunggu dengan gelisah, pimpinan kantor menghampirinya dan mengajaknya berbincang-bincang. Si Bos berkata, "Saya begitu senang, suami Anda bekerja untuk saya. Dia seorang yang sangat berarti dalam perusahaan kami, begitu penuh perhatian dan baik budinya”. Astri terperangah mendengar pujian si bos untuk mantan suaminya, tapi ia tak berkomentar apa-apa.

Roy ternyata mendengar komentar si bos. Setelah Astri pergi, ia menjelaskan, "Kami sudah tidak lagi hidup bersama semenjak 6 bulan lalu, dan sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan biaya untuk putra kami”.

Beberapa minggu kemudian telepon berbunyi untuk Roy. Ia mengangkatnya dan berkata, “Baiklah Ma, kita akan melihat rumah itu bersama setelah jam kerja”. Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, "Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami. Dia mulai melihat saya secara berbeda tak lama setelah Bapak berbicara padanya tempo hari”.

Bayangkan, sebuah perubahan drastis terjadi semata-mata karena perubahan dalam cara melihat. Awalnya, Astri seringkali melihat suaminya sebagai seorang yang sangat menyebalkan, tapi ternyata di mata orang lain Roy sungguh menyenangkan. Astrilah yang kemudian mengajak untuk rujuk, dan mereka kembali menikmati rumah tangga yang jauh lebih indah dari sebelumnya.

Segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah nasib secara drastis, kita perlu melakukan revolusi cara berpikir. Stephen R. Covey (pengarang buku best seller “Seven Habits of Highly Effective People”) pernah berkata: "Kalau Anda menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda”.

Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya seringkali berbeda. Ini contoh sederhana. Anak saya Alissa, yang saat ini berusia empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu diperlukan untuk meningkatkan perkembangan otak dan daya tahan tubuhnya. Betapapun kami membujuknya, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang kami memaksanya menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta. Kami memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan sesuatu yang win-win. Kami menang, ia kalah. Ini pendekatan yang dimulai dengan Do. Kami sadar harus mencari cara lain.

Untungnya, istri saya punya ide menarik. Ia mulai dengan mengubah paradigma Alissa. Kami tahu Alissa sangat suka sirup, karena itu minyak ikan tersebut kami aduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati "sirup" minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum "sirup" tersebut.

Contoh sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Perubahan ini bersifat sukarela dan datang dari diri sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan. Inilah sebuah perubahan yang diawali dengan See. Pendekatan untuk perubahan yang dimulai dengan Do, seringkali bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Pendekatan untuk perubahan seperti ini sering disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti saja, hal ini sudah bermasalah.

Pendekatan hukum juga seringkali bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari celah-celah yang dapat dimanfaatkannya. Banyak pendekatan SDM berusaha mengubah cara berpikir seseorang. Akar korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai kesempatan menumpuk kekayaan, bukannya sebagai sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, selama itu pula korupsi tak akan pernah hilang. Inilah pendekatan inside-out. Memang lebih sulit, tetapi efek yang dihasilkannya jauh lebih mendasar.

Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah nasib, yang perlu Kita lakukan adalah hal yang sederhana:

Ubahlah cara Kita melihat masalah. Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan dan rahmat yang terselubung.

Orang-orang ini sangat berjasa bagi Kita, karena dapat membuat Kita lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih sabar. Saya menyukai apa yang dikatakan John Gray, pengarang buku best seller “Men Are From Mars and Women Are From Venus”. Gray melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda. Ujarnya, "Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh".

Ditulis kembali oleh

Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. +62 21 3283 9866

http://htii.blogspot.com/

Saya Tidak Punya Motivasi

Tulisan Kirdi Putra

Banyak temen-temen saya yang bilang kalo saya menjalani kehidupan dan kerjaan di kantor seperti orang yang gak punya motivasi.


Sebetulnya apa sih yang namanya motivasi? Benarkah saya termasuk orang yang tidak memiliki motivasi?


Motivasi? Banyak sekali definisi dari motivasi... mungkin secara umum, motivasi adalah kondisi yang menyebabkan kita bersemangat, terinspirasi, dan mampu optimis dalam memandang ke depan. Bukan? Yah, kira-kira deh.. baik yang muncul dari dalam diri sendiri, maupun yang dipicu dari luar diri kita (kejadian, nasehat, pelatihan, seminar, dll).


Benarkah termasuk orang yang tidak memiliki motivasi? Waduh, sepertinya yang bisa menjawab adalah diri kita sendiri. Mungkin beberapa poin di bawah ini bisa menjadi sekilas petunjuk kalau kita termasuk yang tidak/kurang memiliki motivasi:


ü Setiap hari, saya merasa terpaksa untuk berangkat ke kantor

ü Berat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan pada saya oleh atasan

ü Pekerjaan adalah sebuah halangan dan hambatan bagi saya untuk bebas

ü Hidup ini rasanya tidak adil, seberapapun keras saya mencoba, pasti akan gagal juga

ü Apapun yang saya kerjakan, tidak akan mampu menyenangkan teman, atasan, atau orang-orang di sekeliling saya

ü Rasanya hidup saya memang sudah ditakdirkan begini-begini saja

ü Sepertinya sifat-sifat jelek saya tidak akan pernah bisa berubah

ü Apapun target yang saya kejar, tidak pernah bisa saya dapatkan

ü Saya capek berusaha, sepertinya saya selalu mencapai jalan buntu

ü dll

Bila rasanya kita mengalami satu atau beberapa hal diatas, mungkin kita bisa mengkategorikan diri kita sendiri sedang mengalami yang namanya Kurang Termotivasi dalam pekerjaan atau hidup kita. Harap tenang, ini bukan akhir dari dunia kan? Setiap orang mengalami naik turun dalam semangat atau motivasi, yang penting adalah, bagaimana cara kita mengatasi diri kita sendiri ketika kita sedang mengalami penurunan dalam motivasi. Perlu kita ketahui, bahwa penurunan motivasi dapat kita manfaatkan, tetapi ini semua tergantung pada pilihan kita. Coba bayangkan sebuah busur panah, apakah kita sanggup melontarkan anak panah sejauh jauhnya tanpa menarik mundur tali busur itu terlebih dahulu? Tidak bukan, sanggupkah kita melihat apapun yang kita alami, kegagalan, kesulitan, termasuk menurunnya motivasi, sebagai proses alami untuk menarik busur kemajuan kita? Bila kita termasuk orang yang sanggup melihat itu sebagai sebuah proses yang harus kita lalui dalam mencapai kemajuan atau apapun yang kita inginkan, maka, turunnya motivasi kita masih berada dalam taraf yang wajar dan sehat. Tetapi, kalau turunnya motivasi kita itu sudah mulai membuat kita tidak lagi mampu melihat harapan di depan, mulai mengganggu emosi kita secara terus menerus (rasanya seperti terjun bebas...tanpa pegangan..), serta masih banyak lagi hal negatif yang kita ciptakan secara terus menerus, maka itu tandanya kita perlu mulai mencari bantuan untuk menemukan cara mengangkat motivasi diri kita sendiri, dari dalam...


Jadi, termasuk yang manakah kita?

Bagaimana kita tau kalo kita butuh motivasi? Bagaimana cara memotivasi diri?

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, ketika mulai terlihat tanda tanda yang tidak sehat, seperti:


ü Hilangnya berbagai harapan di depan (yang sebelumnya kita miliki)

ü Terganggunya emosi secara terus menerus (setiap hari, bahkan setiap saat, sensitif..)

ü Mulai bermasalahnya hubungan dengan orang-orang disekitar kita (akibat sikap dan perilaku yang kita tunjukkan)

ü Bermunculannya berbagai kalimat negatif yang ditujukan pada diri kita sendiri

Maka sepertinya itulah saat kita membutuhkan motivasi, baik dengan memotivasi diri kita sendiri, maupun mencari bantuan orang yang kita percaya dan nyaman untuk membantu kita menemukan kembali motivasi dalam diri.

Caranya memotivasi diri kita sendiri? Pertanyaan sederhana yang menarik. Kenapa? Karena musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Ketahuilah, bahwa orang lain mungkin tidak sanggup mengetahui semua apa yang telah kita lakukan, pikirkan, dan rasakan, tetapi diri kita sendiri tahu kan? Ketahuilah, bahwa memberikan nasehat pada orang lain (seperti yang saya lakukan sekarang...) lebih mudah daripada memberikan nasehat dan berbagai kata-kata bijak pada diri sendiri... percayalah, saya juga merasakan hal yang sama... Lalu, kembali, bagaimana cara kita bisa memotivasi diri sendiri? Ada langkah mudah untuk mampu memotivasi diri kita sendiri:


ü Sadarilah apa yang mampu membuat kita merasa sendirian, jatuh, tidak bersemangat.. termasuk sifat dan perilaku kita yang mampu mengarahkan kita menuju pada perasaan kurang/tidak termotivasi tersebut.

ü Terima semua penyebab tersebut apa adanya, itulah diri kita, itulah yang menjadikan kita seutuhnya... dengan menerima itu semua, kita baru saja mengenali dan mengakui diri kita seutuhnya... jadi kita tau kan, mana yang harus dirubah, dan dari mana mulainya.

ü Mulai untuk merubahnya, dari hal yang paling kecil (tidak usah lagi bertanya, bener atau salah! Hindari menghabiskan waktu untuk CUMA menimbang benar atau tidak yang kita lakukan. Just do it! Nanti juga ketauan), dan yang terpenting, mulai dari SEKARANG (nggak ada lagi “saya mulai besok pagi” atau “pas ada waktu, saya akan lakukan”, nggak... sekarang...).

So, sudah tahu? Sekarang kendali sepenuhnya ditangan kita, tinggal mau atau tidak kita lakukan, itu aja... kalau kita masih terkendala dengan “belum ada waktu”, “belum punya kesempatan”, “belum tau mau mulai dari mana”, itu semua pilihan kita.

Kita memang tidak bisa menolak atau memilih hal-hal yang sedang atau sudah terjadi pada diri kita, tapi kita bisa memilih apa reaksi yang akan kita lakukan...

Ini saatnya, untuk berubah...


Kirdi Putra, CHI, CHt.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. 08561076322

For things to change, I have to change

TUHAN PUNYA ALASAN

(disadur dari sebuah kisah nyata oleh Frank Slazak)


Semua ini dimulai dari impianku..

Aku ingin menjadi astronot

Aku ingin terbang ke luar angkasa

Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat.

Aku tidak memiliki gelar, dan aku bukan seorang pilot..

Namun, sesuatu pun terjadi, suatu keajaiban,

paling tidak bagiku..

Sebuah pengumuman dari Gedung putih,

mereka mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L,

salah satu pesawat ulang-alik NASA.

Dan warga itu adalah seorang guru..

Aku warga biasa, dan aku seorang guru..

Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington.

Setiap hari aku berlari ke kotak pos, berharap..

Akhirnya datanglah sebuah amplop resmi dengan logo NASA didepannya.


Doaku terkabulkan!


Aku lolos penyisihan pertama.

Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya,

impianku terasa semakin dekat

saat NASA mengadakan test fisik dan mental.

Begitu test selesai, Aku menunggu

dan berdoa lagi.

Aku tahu aku semakin dekat pada impianku..

Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan berikutnya..

untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, telah tersaring 10.000 orang..

dan kini aku menjadi bagian dari ”hanya” 100 orang yang berkumpul,

untuk sebuah penilaian akhir..

Ada uji simulator, uji Claustrophobia,

latihan ketangkasan, latihan fisik, percobaan mabuk udara,

dan masih banyak lagi ujian yang tidak mudah untuk dihadapi..

Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa..

Lalu tibalah berita yang menghancurkan hatiku,

NASA memilih Christina McAufliffe.


Aku KALAH!


Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi berat.

Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku..

Aku mempertanyakan semuanya..

KENAPA Tuhan? KENAPA??

Kenapa bukan aku? Apa dari diriku yang kurang?

Mengapa Engkau perlakukan aku dengan kejam?

Aku berpaling pada ayahku. Ia berkata:

Semua terjadi karena suatu alasan…

Selasa, 28 Januari 1986, Aku berkumpul bersama teman-teman,

untuk melihat peluncuran pesawat ulak alik itu.

Sesaat ketika pesawat itu melewati menara landasan pacu,

aku menantang impianku untuk terakhir kali.


TUHAN, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu…


Air mataku menetes,KENAPA bukan aku?

Tujuh puluh tiga detik kemudian,

Tuhan menjawab semua pertanyaanku

dan menghapus semua keraguanku

saat pesawat itu meledak berkeping-keping di udara..

ya, pesawat ulak alik itu adalah Challanger,

dan menewaskan semua penumpang di dalamnya..

Aku teringat kata-kata ayahku,

"Semua terjadi karena suatu alasan..."

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu,

walaupun aku sangat menginginkannya

karena Tuhan memiliki alasan lain

untuk kehadiranku di bumi ini..

Aku memiliki misi lain dalam hidup.

Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah.


Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan

karena TIDAK semua doaku dikabulkan.



Kirdi Putra, CHI, CHt, NLP.

Professional Personal Coach

(Professional Hypnotherapy, NLP, Spiritual Enhancement Program, etc)

Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)

Phone. +62 21 3283 9866

http://htii.blogspot.com/

For things to change, I have to change